telusur.co.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan akan menurunkan subsidi listrik pada tahun 2020 dari Rp 61,7 triliun menjadi Rp 54,7 triliun.
Menanggapi hal tersebut, Ekonom Senior Rizal Ramli menilai Menteri Keuangan Sri Mulyani tak bisa berpikir kreatif dan inovatif.
"Itu menunjukkan Menteri Keuangan terbalik, tidak bisa berpikir kreatif dan inovatif. Karena jangan lupa, yang mau dicabut subsidinya itu rakyat yang pakai listrik 900 VA," kata Rizal di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (6/9/19).
Menurut Rizal, mereka yang memakai listrik 900 VA adalah masuk dalam kategori nyaris miskin. Tetapi, kalau harga tarif listrik naik, dicabut subsidinya, maka mereka akan jatuh dari sebelumnya nyaris miskin, menjadi miskin.
"Jadi nambah sekitar 22 juta lagi orang miskin. Pertanyaannya, apakah pemerintah ini tidak ada cara lain selain memotong subsidi untuk rakyat yang nyaris miskin?" ujar Rizal.
Mantan Menteri Keuangan itu menjelaskan, saat ini negara melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluarkan uang untuk membayar bunga pinjaman sebesar Rp 300 triliun lebih mahal. Dan itu menjadi beban rakyat Indonesia.
"Sehingga untuk membayar itu perlu potong anggaran ini, naikin harga itu, kenapa nggak coba negosiasi supaya beban bunganya turun. Bayangin kelebihan bunganya 300 triliun, itu tindakan kriminal," katanya. [Asp]
Laporan: Fahri Haidar



