telusur.co.id - Anggota Komisi I DPR, Sukamta, menyambut baik pelibatan prajurit TNI dalam hal tracer atau pelacak penyebaran kasus Covid-19. Namun, harus hati-hati dan bekal perlengkapan yang cukup supaya para prajurit tidak tertular, karena nyawa 1 jiwa sangat berharga.
"Pendekatan ke masyarakat harus tetap dengan santun, persuasif dan edukatif. Jangan sampai nanti pada level tertentu, pendekatan yang ditempuh represif yang justeru bisa menimbulkan masalah baru, alih-alih menyelesaikan masalah di tengah pandemi," kata Sukamta di Jakarta, Rabu (10/2/21).
Menurut Sukamta, TNI memang bisa diperbantukan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), tapi tetap harus mengedepankan aspek kemanusiaan dan demokratis. Kemudian, pemerintah juga harus punya konsep tracing tersebut.
Misalnya, pemerintah harus mampu memprediksi angka berapa orang yang akan terkena target tracing ini. Jika tracing dihitung hingga 72 jam ke belakang sejak seorang pasien dinyatakan positif, maka sudah bisa diperkirakan berapa banyak orang yang kontak erat yang terkena tracing.
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR ini juga mempertanyakan, dari angka hasil tacing, prosedur apa yang harus dilakukan jika ternyata warga yang terdeteksi positif menjadi meroket. Misalnya, apakah sudah disiapkan tempat untuk isolasi pasien secara cukup?
"Itu semua tadi harus dipikirkan dan disiapkan. Ini lagi pandemi, jadi semuanya harus dilakukan secara hati-hati dan terukur. Karena anggaran juga terbatas. Jangan sampai program ini tidak berjalan efektif sebagaimana mestinya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, mengerahkan 29.736 prajurit untuk menjadi tracer atau pelacak penyebaran kasus Covid-19. Para prajurit itu akan beroperasi di tujuh provinsi yang melaksanakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro di Jawa dan Bali.
"TNI akan mengerahkan 27.866 Babinsa, 1.768 Babinpotmar, dan 102 Babinpotdirga di tujuh provinsi di Jawa-Bali yang melaksanakan PPKM skala mikro," kata Hadi, Selasa (9/2/21).
Sebelum diterjunkan ke wilayah kerjanya masing-masing, para Babinsa, Babinpotmar, dan Babinpotdirga akan diberi pelatihan menjadi tracer Covid-19 terlebih dahulu. Dengan begitu, mereka dapat membantu pemerintah dalam melakukan tracing Covid-19 di tengah masyarakat.
"Di samping bertugas sebagai penegak disiplin protokol kesehatan, para prajurit TNI tersebut dapat membantu pemerintah untuk melaksanakan tracing Covid-19," ujarnya.
Hadi menegaskan, Babinsa menjadi ujung tombak TNI di tengah masyarakat. Panglima meminta Babinsa menjadi agen pencegahan, pendeteksian, dan penanggulangan Covid-19 di desa. Pada apel gelar kesiapan ini diikuti 500 Babinsa, 50 Babinpotmar, 30 Babinpotdirga, 25 vaksinator TNI, dan 475 tenaga kesehatan TNI.[Fhr]



