UEA Dilaporkan Sewa Prajurit Kopassus Amerika US$ 1,5 Juta per Bulan untuk Pembunuhan di Yaman - Telusur

UEA Dilaporkan Sewa Prajurit Kopassus Amerika US$ 1,5 Juta per Bulan untuk Pembunuhan di Yaman

Ilustrasi saat terjadi perang di Yaman. Foto: Istimewa

telusur.co.id - Dokumen pengadilan dilaporkan menunjukkan seorang mantan komando pasukan khusus AS menghasilkan uang jutaan dolar dari Uni Emirates Arab untuk pembunuhan di Yaman.

Media New York Post pada Kamis (2/4/2026) menerbitkan laporan, di mana anggota parlemen Yaman, Anssaf Ali Mayo, yang berhasil lolos dari kematian, menyebut Abraham Golan, seorang tentara bayaran yang diduga di balik upaya pembunuhannya. 

Pada Agustus 2015, Golan, bersama dengan mantan anggota Navy SEAL Issac Gilmore, mendirikan grup Spear Operations di Rancho Santa Fe di San Diego. Keduanya mengajukan proposal dan mencapai kesepakatan dengan Uni Emirat Arab untuk melakukan "pembunuhan terarah" atas nama Emirat, demikian klaim gugatan itu, dikutip NY Post.

Sebagai imbalannya, Spear dilaporkan akan dibayar $1,5 juta (Rp25.510.681.350 kurs sekarang Rp17.010/dolar) per bulan ditambah bonus untuk setiap pembunuhan yang berhasil.

Kesepakatan antara Spear dan UEA tercapai di Abu Dhabi selama pertemuan yang menurut laporan NY Post juga dihadiri oleh Mohammed Dahlan, mantan politisi Palestina yang diasingkan dan kemudian menjadi penasihat Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan. 

“Ada program pembunuhan terarah di Yaman. Saya yang menjalankannya. Kami yang melakukannya. Itu disetujui oleh UEA dalam koalisi,” kata Golan, menurut dokumen-dokumen tersebut.

Setelah kesepakatan dengan UEA tercapai, keduanya merekrut mantan anggota militer, sebuah poin penting dalam penawaran mereka kepada UEA, termasuk Dale Comstock, mantan anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, yang dibayar $40.000 per bulan ditambah bonus untuk memimpin tim pembunuh tersebut.

Kelompok itu dibentuk pada bulan Desember. Mereka diduga terbang menggunakan jet sewaan di Bandara Teterboro, New Jersey, menuju ke Yaman dengan membawa rompi antipeluru dan peralatan khusus untuk menyiapkan bahan peledak.

Mereka juga dilaporkan membawa bekal makanan siap saji untuk beberapa minggu, serta tiga kardus bir Basil Hayden's karena mustahil mendapatkan alkohol di Yaman.

Berdasarkan gugatan tersebut, target utama mereka adalah Mayo, yang berada di urutan teratas daftar orang yang akan dieliminasi karena ia adalah anggota partai al-Islah, kelompok politik terbesar kedua di Yaman, yang terkait dengan musuh UEA, yaitu Ikhwanul Muslimin.

Media Middle East Eye, juga melaporkan yang mengutip sebuah sebuah film dokumenter BBC yang ditayangkan pada tahun 2024, di mana Gilmore mengakui bahwa Mayo termasuk di antara nama-nama dalam "daftar target pembunuhan". 

Mayo kemudian mengatakan bahwa ia menderita "trauma psikologis dan emosional" akibat percobaan pembunuhan tersebut, dan sekarang hidup dalam pengasingan di Arab Saudi. Istri dan kedua anaknya tetap berada di Yaman. 

Menurut NY Post, Golan merencanakan pembunuhan untuk UEA dari sebuah rumah mewah senilai $7 juta di San Diego.

Gugatan itu menyatakan bahwa Golan memberi tahu Comstock bahwa Spear telah disewa oleh UEA untuk melakukan pembunuhan atas nama mereka. 

Upaya pembunuhan terhadap Mayo memicu serangkaian pembunuhan terarah di Yaman antara tahun 2015 dan 2018, di mana organisasi hak asasi manusia Reprieve menyelidiki 160 kasus pembunuhan. 

Reprieve menemukan bahwa hanya 23 dari mereka yang tewas memiliki hubungan dengan organisasi teror. 

"UEA bersedia menghancurkan seluruh negeri dan mendatangkan tentara bayaran dari seluruh dunia untuk memusnahkan (Partai, red) al-Islah," kata Mohammed Abdulwadood, seorang anggota partai di Taiz, kepada Middle East Eye pada tahun 2018. "UEA itu licik, tetapi Tuhan tidak membantu orang yang licik untuk berhasil."

Pemerintah UEA membantah menargetkan individu yang tidak terkait dengan terorisme, dan mengatakan bahwa kegiatan kontra-terorismenya dilakukan atas undangan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Investigasi BBC menemukan bahwa, selain tentara bayaran AS, UEA juga merekrut mantan anggota al-Qaeda untuk menyediakan keamanan di Yaman.

Seorang informan mengatakan kepada BBC bahwa mantan anggota kelompok militan tersebut, yang telah lama hadir di Yaman selatan, dipekerjakan untuk bekerja dengan Dewan Transisi Selatan (STC) yang bersekutu dengan UEA dalam kapasitas keamanan. 

Pelapor tersebut memberikan nama-nama 11 mantan anggota al-Qaeda yang diduga bekerja sama dengan STC. 

Pada saat itu, STC membantah klaim keterlibatan al-Qaeda dalam angkatan bersenjatanya. 

UEA dan al-Islah sebelumnya berada di pihak yang sama dalam perang Yaman sejak 2015, berperang melawan gerakan Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah.

Namun, hubungan tersebut memburuk secara signifikan. Pada Oktober 2017, bentrokan pecah di Aden antara milisi al-Islah dan milisi proksi Emirat.[Nug]

 


Tinggalkan Komentar