telusur.co.id - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra sangat kehilangan dengan meninggalnya Prof Dr Muladi SH. Yusril pun mengenang ketegasan dan kewibawaan Muladi ketika menjadi pejabat negara.
Kenangan itu dituliskan Yusril melalui akun media sosial pribadinya @Yusrilihza_Mhd, Kamis.
"Kabar duka datang ke saya pagi ini, Prof Dr Muladi SH wafat. Beberapa menit saya tertegun mendengarnya. Saya merasa dekat dengan beliau semasa hidupnya. Beliau seorang ilmuwan hukum yang berwibawa dan meninggalkan warisan teori-teori hukum pidana yang sangat berharga di masa depan," kenang Yusril.
Karena kewibawaannya itulah, Jend Feisal Tandjung dan Yusril mengusulkan kepada Presiden Suharto agar Prof Muladi diangkat menjadi Menteri Kehakiman. Jabatan itu dipangkunya sampai masa Presiden Hiabibie. Beliau kemudian merangkap sebagai Mensesneg menggantikan Akbar Tandjung.
Yusril tidak menyangka di akhir tahun 1999, justru dirinya yang menjadi Menteri Kehakiman menggantikan Prof Muladi. "Hubungan kami berdua berjalan baik sampai 2 tahun yang lalu untuk terakhir kali saya bertemu beliau dalam kondisi kesehatan yang makin menurun."
Di era terakhir zaman Presiden Suharto dan Habibie, Prof Muladi aktif di ICMI. Latar belakang beliau semasa kuliah adalah GMNI. Yusril melihat kecenderungan almarhum kepada Islam begitu mendalam. Tidak berlebihan kiranya kalau dikatakan beliau adalah Nasionalis Muslim yang sejati.
Ketegasan pendirian serta sikap bijak dan hati-hati Prof Muladi itu menjadi teladan bagi Yusril. Beliau pekerja keras dan menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu. "Beliau memberikan nasehat kepada saya waktu serah terima jabatan Menteri Kehakiman akhir 1999 agar saya tetap bijak dan obyektif," katanya.
"Kini Prof Muladi telah tiada. Kita kehilangan tokoh besar bangsa dan negara serta ilmuwan hukum yang sangat berwibawa. Usia manusia ada batasnya. Segala yang bernyawa akan mati. Kita semua akan kembali kepadaNya," tutupnya. [ham]



