Andina Thresia Dukung Putra-Putri Dayak Dapat Peluang Lebih Besar Jadi Prajurit TNI - Telusur

Andina Thresia Dukung Putra-Putri Dayak Dapat Peluang Lebih Besar Jadi Prajurit TNI

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem, Andina Thresia Narang

telusur.co.id - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem, Andina Thresia Narang, mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka peluang lebih besar bagi putra-putri suku Dayak menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Andina menilai kebijakan afirmatif yang akan ditindaklanjuti Kementerian Pertahanan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat pertahanan nasional sekaligus memastikan keterwakilan seluruh wilayah dan kelompok masyarakat dalam tubuh TNI.

Namun, ia menegaskan kebijakan afirmatif tidak boleh dimaknai sebagai pemberian keistimewaan yang mengurangi standar seleksi prajurit.

Menurut Andina, afirmasi justru harus difokuskan pada pemerataan akses dan penghapusan hambatan struktural yang selama ini dihadapi masyarakat adat maupun generasi muda dari wilayah terpencil.

“Presiden Prabowo sedang mengirimkan pesan penting bahwa membela negara adalah hak seluruh warga Indonesia. Ini yang dibutuhkan putra-putri Dayak, mereka membutuhkan akses yang adil untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai calon prajurit terbaik bangsa,” ujar Andina, Selasa (1/9/2026).

Sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Tengah, Andina menilai masyarakat Dayak memiliki berbagai potensi yang relevan dengan kebutuhan sumber daya manusia di bidang pertahanan.

Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan hutan tropis, ketahanan fisik, kedisiplinan komunal, serta kearifan lokal dalam menjaga wilayah disebutnya sebagai modal yang dapat dikembangkan untuk mendukung pertahanan nasional.

Terlebih, posisi Kalimantan semakin strategis seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan perkembangan dinamika geopolitik di kawasan Asia Tenggara.

Karena itu, menurut Andina, peningkatan representasi putra-putri Kalimantan, termasuk masyarakat Dayak, di tubuh TNI memiliki nilai strategis sekaligus simbolis dalam memperkuat integrasi nasional.

Andina mendorong agar kebijakan afirmatif bagi putra-putri Dayak diarahkan pada peningkatan kesempatan, bukan penurunan standar seleksi.

Sejumlah langkah dapat dilakukan, mulai dari pembinaan pra-rekrutmen bagi pelajar dan pemuda Dayak di wilayah pedalaman, pemerataan lokasi seleksi, hingga penguatan kemampuan akademik, kesehatan, dan kebugaran sebelum mengikuti tahapan seleksi resmi.

Ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas adat untuk menjaring sekaligus mempersiapkan talenta-talenta muda yang memiliki potensi menjadi calon prajurit TNI.

“Standar kelulusan TNI harus tetap tunggal, objektif, dan profesional. Yang kita perbaiki adalah titik awalnya, sehingga anak-anak dari daerah terpencil memperoleh peluang yang sama dengan mereka yang berasal dari kota-kota besar,” kata Andina.

Menurutnya, keberagaman komposisi prajurit TNI bukan sekadar persoalan representasi etnis, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat kohesi nasional.

TNI yang merepresentasikan putra-putri dari berbagai suku, agama, dan wilayah Indonesia dinilai akan memiliki legitimasi sosial yang semakin kuat sebagai tentara rakyat.

Andina juga mengingatkan pentingnya komunikasi publik dalam menjelaskan kebijakan afirmatif tersebut. Istilah privilege atau keistimewaan, menurutnya, perlu dijelaskan secara tepat agar tidak menimbulkan persepsi bahwa terdapat standar berbeda dalam proses rekrutmen TNI.

“Kebijakan afirmatif harus dijelaskan sebagai instrumen pemerataan kesempatan yang tetap berlandaskan meritokrasi, sehingga mampu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses rekrutmen TNI,” ujarnya.

Sebagai mitra kerja Kementerian Pertahanan dan TNI, Andina menyatakan Komisi I DPR RI akan mengawal implementasi kebijakan tersebut agar berjalan transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.

Ia berharap kebijakan ini tidak hanya membuka akses lebih luas bagi putra-putri Dayak, tetapi juga dapat menjadi model pembangunan sumber daya manusia pertahanan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia, terutama daerah terpencil dan masyarakat adat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

“Patriotisme tidak ditentukan oleh asal daerah, melainkan oleh pengabdian kepada Merah Putih. Ketika negara membuka pintu yang lebih adil bagi putra-putri Dayak, sesungguhnya kita sedang memperkuat persatuan Indonesia dan memperkokoh fondasi pertahanan nasional,” tutup Andina.


Tinggalkan Komentar