telusur.co.id - Gelombang semangat keilmuan Islam kembali terlihat begitu kuat di Kota Surakarta. Ratusan da’i, ustadz, kiai, asatidz, dan tokoh agama dari berbagai daerah memadati Aula PCNU Surakarta dalam kegiatan Kajian Kitab Kuning Bab Qurban dan Penyembelihan yang berlangsung dengan penuh khidmat, megah, dan sarat nuansa religius khas tradisi pesantren.
Sejak sebelum acara dimulai, Sabtu (09/5/2026), para peserta telah berdatangan dari berbagai majelis taklim, lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren, masjid, dan organisasi keagamaan. Kehadiran ratusan da’i dan ustadz tersebut menunjukkan tingginya semangat para penggerak dakwah dalam memperdalam ilmu agama, khususnya terkait fiqih qurban dan penyembelihan menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha.
Area Aula PCNU Surakarta tampak dipenuhi para peserta yang duduk dengan penuh antusias sambil membawa kitab, buku catatan, dan perlengkapan belajar. Suasana majelis ilmu terasa sangat hidup, menghadirkan nuansa keilmuan Islam tradisional yang kuat sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi kajian kitab kuning masih menjadi ruh penting dalam penguatan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu diadakan Semaan Al Qur’an yang dibaca oleh Ananda Andri Hanafi santri Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, Kegiatan dibuka dengan sema’an Al-Qur’an yang dibawakan dengan penuh kekhusyukan oleh Ananda Ahmad Mukhibullah Al Hafidz, Anggota Komisi Fatwa MUI Surakarta.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema di seluruh ruangan menghadirkan suasana yang teduh dan penuh keberkahan. Para peserta tampak khusyuk menyimak bacaan Al-Qur’an sambil menundukkan kepala dan melantunkan doa dalam hati.
Suasana religius kemudian semakin terasa ketika pembacaan Maulid Al-Barzanji dimulai. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua LDNU, Ust. Neni Muttaqin. Shalawat yang dilantunkan bersama-sama oleh ratusan da’i dan ustadz menciptakan atmosfer spiritual yang sangat kuat dan penuh kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
“Gema shalawat yang berkumandang, menjadikan majelis ngaji kitab kuning ini tidak hanya sebagai forum kajian ilmiah, tetapi juga ruang dzikir dan penguatan ruhani para pejuang dakwah,” ungkap Ustadz Muttaqin.
Setelah rangkaian pembukaan selesai, sambutan disampaikan oleh Ketua PCNU Surakarta, Dr. (Cand.) H.M. Mashuri, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas tingginya semangat para da’i dan ustadz dalam menghadiri kajian kitab kuning tersebut.
Mashuri menegaskan bahwa, kegiatan seperti ini merupakan bagian penting dari ikhtiar menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkuat kualitas dakwah, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Menurut beliau, para da’i dan ustadz memiliki peran strategis sebagai penjaga moral umat sekaligus penerus sanad keilmuan Islam Nusantara.
“Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat dan tantangan dakwah yang semakin kompleks, para da’i dan ustadz membutuhkan penguatan ilmu, kedalaman pemahaman fiqih, serta penguatan spiritual agar mampu menghadirkan dakwah yang sejuk, moderat, dan membangun persatuan umat,” urai Mashuri.
Memasuki sesi inti, para peserta mendapatkan materi utama yang disampaikan oleh Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, S.H., M.A., M.H., dengan tema “Qurban untuk Bangsa dan Negara dalam Tinjauan Bingkai Pancasila dan NKRI.”
Dalam penyampaiannya yang ilmiah, tajam, dan penuh wawasan kebangsaan, Mustain menuturkan bahwa, ibadah qurban tidak dapat dipahami sekadar sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi memiliki dimensi teologis, sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan yang sangat luas. Menurut beliau, qurban merupakan simbol pengorbanan ego, kepentingan pribadi, dan keserakahan demi menghadirkan kemaslahatan bersama.
“Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme, keserakahan, dan kepentingan pribadi demi lahirnya keadilan sosial, persaudaraan umat, dan kekuatan bangsa,” tutur Gus Mustain, sapaan akrabnya.
Dengan pendekatan yang memadukan perspektif keislaman, sosial, dan konstitusional, Doktor Ilmu Hukum UNS ini menjelaskan bahwa, nilai-nilai qurban sangat relevan dengan spirit Pancasila dan NKRI. Nilai ketauhidan tercermin dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai kemanusiaan dalam semangat berbagi dan kepedulian sosial, nilai persatuan dalam penguatan ukhuwah kebangsaan, serta nilai keadilan sosial dalam pemerataan manfaat qurban kepada masyarakat.
Ketua Fatwa MUI Surakarta ini juga mengungkapkan bahwa, Islam dan nasionalisme bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan harmonis dalam membangun bangsa yang religius, adil, dan berkeadaban.
“Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi oleh manusia-manusia yang memiliki jiwa pengorbanan, kepedulian sosial, dan akhlak kebangsaan,” tukasnya yang juga Pengurus PWNU Jawa Tengah pada lembaga LPBH.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (Puskohis) UINS Surakarta ini turut menjelaskan. para da’i dan ustadz agar menghadirkan dakwah yang menyejukkan, intelektual, dan mampu memperkuat persatuan umat serta bangsa.
“Da’i dan ustadz hari ini tidak cukup hanya menyampaikan hukum, tetapi juga harus menghadirkan Islam yang mampu menjaga persatuan, menenangkan umat, dan merawat Indonesia,” lugas kiai yang sekarang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta.
Penyampaian materi yang argumentatif, mendalam, namun tetap komunikatif tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta. Ratusan da’i dan ustadz tampak serius menyimak setiap penjelasan yang disampaikan karena dinilai sangat relevan dengan tantangan dakwah dan kehidupan sosial masyarakat saat ini.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Syuriyah NU Surakarta, KH. Moh. Zainal Abidin, S.Kom.I., M.Pd., dengan tema “Fiqih Qurban dan Penyembelihan.” Dalam kajiannya, kiai Abidin membahas secara rinci berbagai hukum dan ketentuan fiqih terkait qurban dan penyembelihan berdasarkan pandangan para ulama dan kitab-kitab fiqih klasik.
Pembahasan meliputi hukum qurban, syarat hewan qurban, usia hewan, cacat yang membatalkan qurban, waktu penyembelihan, tata cara penyembelihan sesuai syariat, hingga ketentuan pembagian daging qurban kepada masyarakat.
Kiai Abidin juga menuturkan, pentingnya menjaga adab dan etika dalam penyembelihan hewan agar tetap sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang mengedepankan kasih sayang dan perlakuan baik terhadap hewan.
Penjelasan beliau yang sistematis, mendalam, dan khas tradisi pesantren membuat para peserta semakin antusias mengikuti kajian hingga akhir acara. Banyak peserta tampak aktif mencatat poin-poin penting yang disampaikan untuk kemudian dijadikan bekal dakwah dan pengajaran di masyarakat.
Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan semangat keilmuan yang tinggi. Para peserta mengaku mendapatkan manfaat besar dari kajian tersebut, terutama sebagai bekal dalam menyampaikan dakwah dan membimbing masyarakat menjelang pelaksanaan ibadah qurban.
Kajian kitab kuning ini sekaligus menjadi bukti bahwa, tradisi keilmuan Islam berbasis pesantren masih hidup, kuat, dan terus menjadi ruh dalam dakwah Islam Nusantara. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, para da’i dan ustadz tetap membutuhkan majelis ilmu yang menghadirkan kedalaman pemahaman agama, penguatan sanad keilmuan, serta penguatan moral dan spiritual.
Melalui kegiatan ini, PCNU Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga tradisi Islam Nusantara, memperkuat moderasi beragama, meningkatkan kualitas dakwah para da’i dan ustadz, serta merawat harmoni kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Majelis ilmu seperti ini diharapkan terus menjadi cahaya peradaban yang menerangi umat dengan ilmu, akhlak, persaudaraan, dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. (ari)



