telusur.co.id - Kehadiran Hendra Setiawan sebagai pelatih skuad Indonesia di Piala Thomas 2026 menghadirkan nuansa emosional tersendiri bukan hanya bagi tim Merah Putih, tetapi juga bagi sosok yang pernah membentuk kariernya: Herry Iman Pierngadi.
Kini berdiri di kubu berbeda sebagai pelatih kepala Malaysia, Herry IP tak bisa menyembunyikan rasa bangganya melihat mantan anak didiknya melangkah ke dunia kepelatihan.
“Senang rasanya melihat Hendra meneruskan warisan sebagai pelatih,” ujar Herry, penuh makna dilansir media Malaysia Rabu (22/4/2026).
Turnamen bergengsi yang digelar di Horsens, Denmark ini menjadi panggung awal bagi Hendra dalam peran barunya. Ia langsung dihadapkan pada tantangan besar dengan mengawal skuad ganda putra Indonesia yang solid, berisi nama-nama seperti Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama / Moh Reza Pahlevi Isfahani, serta Raymond Indra / Nikolaus Joaquin.
Sebagai pemain, Hendra dikenal bukan hanya karena prestasinya yang gemilang termasuk emas Olimpiade dan gelar juara dunia bersama Mohammad Ahsan dan almarhum Markis Kido—tetapi juga karena sikapnya yang rendah hati dan konsisten. Karakter itulah yang kini diharapkan terbawa dalam gaya kepelatihannya.
Sementara itu, Herry IP yang telah lama menjadi ikon kepelatihan Indonesia kini menjalani pengalaman baru bersama Malaysia. Ia menilai tren mantan pemain beralih menjadi pelatih semakin marak, meski belum semuanya mampu menunjukkan konsistensi.
“Banyak yang mencoba, tapi tidak semua siap secara mental dan kedewasaan,” ujarnya lugas.
Beberapa nama yang juga mengikuti jejak tersebut antara lain Wong Choong Hann, Tan Bin Shen, Jeremy Gan, Tan Kim Her, Lee Wan Wah, hingga Zhang Jun dan Zhang Ning.
Menatap persaingan, Herry menilai Korea Selatan masih menjadi kekuatan utama di sektor ganda, terutama dengan kehadiran pasangan nomor satu dunia Kim Won-ho / Seo Seung-jae. Namun, ia tetap memberi harapan bagi Malaysia.
“Saya percaya Aaron Chia dan Soh Wooi Yik bisa mengalahkan mereka asal mereka percaya diri,” katanya.
Dengan rekam jejak membawa Indonesia juara pada 2000 dan 2022, Herry IP tahu betul bagaimana kerasnya tekanan di Piala Thomas. Kini, cerita baru pun dimulai dengan murid dan guru yang berdiri di sisi berlawanan, tetapi tetap terikat oleh satu warisan: kejayaan bulu tangkis.



