telusur.co.id - Yayasan Miftahul Huda Gresik menggandeng PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk dalam menyelenggarakan sosialisasi literasi digital dengan tema "Edukasi Produk Perbankan (Tabungan, Kredit UMKM, KUR dan Pembiayaan)" pada Senin, 3 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gresik ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara lembaga pendidikan dan perbankan dalam meningkatkan pemahaman keuangan masyarakat.
Acara yang dihadiri 150 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pelaku UMKM, petani, dan masyarakat umum ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni H. Khilmi, Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi Gerindra, dan M. Nasir, pemerhati perbankan. Diskusi dipandu oleh moderator Muhammad Busyiri.
Kolaborasi dengan BRI ini menjadi nilai tambah bagi para peserta, mengingat bank pelat merah tersebut memiliki program literasi keuangan yang masif hingga ke pelosok negeri. BRI selama ini dikenal konsisten dalam mendampingi pelaku usaha melalui edukasi pemanfaatan platform digital untuk pemasaran, pencatatan keuangan otomatis, hingga sistem pembayaran nirkabel yang lebih aman dan transparan.
Dalam sambutannya, H. Khilmi menyoroti pentingnya pemahaman produk perbankan sebagai kunci pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Anggota Komisi VI ini memberikan perhatian khusus soal isu koperasi dan UMKM, ia menekankan bahwa akses terhadap layanan keuangan formal harus diiringi dengan pemahaman yang baik agar masyarakat terhindar dari jeratan pinjaman ilegal.
"Koperasi dan UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita. Saya berharap masyarakat Gresik bisa memanfaatkan produk perbankan seperti KUR dan pembiayaan untuk mengembangkan usaha, tapi tetap waspada terhadap risiko dan memilih lembaga keuangan yang terdaftar di OJK," ujar Khilmi.
Sedangkan pembicara kedua, M. Nasir, memaparkan ragam produk perbankan yang tersedia bagi masyarakat dan pelaku usaha. Ia menjelaskan , prosedur pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta skema pembiayaan lainnya.
"Banyak pelaku UMKM belum memahami prosedur pengajuan kredit dengan benar, sehingga kesulitan mengakses modal usaha. Padahal, produk seperti KUR memiliki bunga rendah dan persyaratan yang cukup mudah jika diajukan melalui bank-bank Himbara," jelas Nasir.
Nasir juga mengingatkan pentingnya literasi keuangan digital. Di era serba digital, transaksi perbankan berbasis aplikasi perbankan atau QRIS menjadi semakin penting untuk efisiensi usaha. Namun, masyarakat juga perlu waspada terhadap kejahatan siber dan memahami keamanan transaksi digital.
"Kalangan perempuan seringkali menjadi motor literasi keuangan dalam keluarga. Saya mengajak ibu-ibu pelaku UMKM di Gresik untuk mulai beralih ke transaksi digital. Ini bukan hanya soal kemudahan, tetapi juga soal keamanan dan pencatatan keuangan yang lebih rapi," tambah Nasir.
Acara berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori Muhammad Busyiri. Para peserta tampak antusias menanyakan berbagai hal, mulai dari cara mengajukan KUR hingga strategi memilih produk tabungan yang menguntungkan.
Salah satu peserta, Siti Aminah, pelaku usaha makanan ringan, mengaku terbantu dengan penjelasan para narasumber.
"Saya selama ini bingung mau pinjam modal ke bank karena takut prosedurnya ribet. Ternyata ada KUR yang bunganya kecil dan bantuan dari bank bisa sampai Rp100 juta. Saya jadi lebih paham dan berencana mengajukan KUR tahun depan," tuturnya.



