telusur.co.id -Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menginisiasi kegiatan diskusi dan buka puasa bersama jurnalis Sejabodetabek bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” yang digelar di Grand Ballroom Lobby Mega Anggrek Hotel, Jakarta, Minggu (15/3). Kegiatan ini dihadiri sekitar 110 jurnalis dari berbagai media nasional.
Dalam sambutan keynote-nya, Hetifah menekankan bahwa transformasi digital telah mengubah lanskap industri media secara fundamental. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan, jurnalisme dituntut untuk semakin adaptif dengan memanfaatkan data, riset ilmiah, serta teknologi digital tanpa meninggalkan prinsip dasar pemberitaan yang akurat, berimbang, dan dapat dipercaya.
Menurut Hetifah, integrasi antara jurnalisme, riset, dan kecerdasan buatan menjadi kebutuhan penting agar media tetap mampu menghadirkan informasi yang berkualitas bagi publik. Pemanfaatan teknologi harus diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kerja jurnalistik, bukan menggantikan peran kritis dan etika yang menjadi fondasi profesi wartawan.
Selain itu, Hetifah menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti jurnalis, melainkan sebagai copilot yang membantu mempermudah kerja-kerja jurnalistik. Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pengolahan data, riset awal, hingga analisis informasi secara lebih cepat dan efisien. Namun demikian, AI tidak dapat menggantikan peran utama jurnalis karena kerja jurnalistik tetap membutuhkan penilaian editorial, kepekaan terhadap konteks sosial, verifikasi fakta di lapangan, serta integritas dan etika profesi yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.
“Di era banjir informasi seperti sekarang, kualitas pemberitaan menjadi sangat menentukan. Karena itu, kolaborasi antara jurnalis, peneliti, dan ahli data menjadi penting agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak hanya cepat, tetapi juga berbasis data dan riset yang kuat,” ujar Hetifah.
Ia juga menilai bahwa lembaga riset memiliki peran strategis dalam mendukung jurnalisme berbasis data. Kolaborasi antara dunia penelitian dan media diharapkan dapat memperkaya perspektif pemberitaan sekaligus meningkatkan literasi publik terhadap isu-isu strategis nasional.
Diskusi ini menghadirkan narasumber dari kalangan peneliti dan ahli statistik, yaitu Hanif Fakhrurroja, Peneliti Ahli Madya di Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Setia Pramana, Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data di Badan Pusat Statistik. Keduanya membahas pentingnya pemanfaatan data, metodologi statistik, serta teknologi kecerdasan buatan dalam memperkuat kualitas analisis dan pemberitaan media.
Dalam paparannya, para narasumber menyoroti bahwa jurnalisme masa depan akan semakin bergantung pada kemampuan mengolah data secara akurat serta memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses analisis informasi. Namun demikian, integritas jurnalistik tetap menjadi faktor utama agar teknologi tidak disalahgunakan dalam produksi berita.
Hetifah menambahkan bahwa kegiatan diskusi ini juga menjadi ruang dialog antara dunia media, riset, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat ekosistem informasi publik yang sehat dan berkualitas.
“Media memiliki peran strategis dalam membangun literasi masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa perkembangan teknologi digital justru memperkuat kualitas demokrasi melalui pemberitaan yang akurat, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan publik,” jelasnya.
Selain diskusi, kegiatan ini juga menjadi momentum silaturahmi antara Ketua Komisi X DPR RI dengan jurnalis dari berbagai media nasional melalui buka puasa bersama, sekaligus memperkuat kemitraan antara parlemen dan media dalam mendorong pembangunan sektor pendidikan, riset, dan literasi informasi di Indonesia.
Hetifah berharap diskusi semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar tercipta kolaborasi yang lebih kuat antara jurnalis, peneliti, dan pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan komunikasi publik di era digital.
“Ke depan, kita perlu membangun ekosistem smart journalism di Indonesia, di mana pemberitaan tidak hanya cepat, tetapi juga cerdas, berbasis data, dan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi masyarakat,” tutupnya.






