telusur.co.id - Tren minum kopi yang terus meningkat di Indonesia mendorong pemerintah untuk tak sekadar fokus pada produksi, tetapi juga kualitas. Melalui Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, upaya serius kini dilakukan untuk memperkuat daya saing industri kopi nasional terutama dari sisi sumber daya manusia dan proses pengolahan.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan sekaligus peluang besar. Menurutnya, penikmat kopi saat ini tidak lagi sekadar minum, tetapi juga memahami karakter, cita rasa, hingga asal-usul kopi yang mereka konsumsi.
“Permintaan terhadap kopi berkualitas terus meningkat. Konsumen kini lebih kritis dan menghargai keunikan setiap sajian,” ujarnya dalam keterangan tertulis Sabtu (25/4/2026).
Data International Coffee Organization (ICO) menunjukkan konsumsi kopi di Indonesia melonjak hingga 50,02 persen dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, pertumbuhan kafe yang mencapai 16 persen per tahun turut memperkuat budaya ngopi di berbagai kalangan.
Di tengah tren ini, proses penyangraian atau roasting menjadi sorotan utama. Tahapan ini dinilai krusial karena sangat menentukan rasa akhir kopi. Menjawab kebutuhan tersebut, Direktorat Jenderal IKMA menggelar program sertifikasi bagi para pelaku industri kecil dan menengah (IKM).
Pelatihan tersebut berlangsung di Amuya Coffee Academy dan diikuti 17 peserta dari berbagai daerah di Jabodetabek. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis para coffee roaster sekaligus memperkuat standar kualitas industri kopi lokal.
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi besar untuk mendorong IKM kopi agar lebih kompetitif.
“Dengan kompetensi yang terstandar, pelaku IKM bisa meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas pasar,” jelasnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), saat ini terdapat lebih dari 1.500 unit IKM kopi dan puluhan industri besar yang bergerak di sektor ini. Indonesia pun masih kokoh sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik mencatat ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 117,5 ribu ton pada 2024, dengan pasar utama seperti Malaysia, Tiongkok, hingga Arab Saudi.
Direktur IKM Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris, menambahkan bahwa sertifikasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan profesional atas keahlian pelaku industri.
“Ini penting untuk meningkatkan kredibilitas usaha dan membuka peluang pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap industri kopi Indonesia tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga mampu bersaing di level global lewat kualitas dan karakter yang kuat.



