telusur.co.id - Juru bicara senior angkatan bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa seluruh pelabuhan dan pusat ekonomi di negara-negara pesisir Teluk Persia dapat menjadi target serangan Iran jika Washington benar-benar melaksanakan ancamannya terhadap pelabuhan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Amerika Serikat kembali mengancam akan menyerang pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari agresi bersama dengan rezim Zionis Israel.
“Jika AS benar-benar melaksanakan ancamannya terhadap pelabuhan Iran, maka tidak akan ada satu pun pelabuhan, pusat ekonomi, atau lokasi di kawasan Teluk Persia yang berada di luar jangkauan kami. Semuanya akan kami anggap sebagai target yang sah,” tegas Shekarchi, seperti dilaporkan kantor berita Presstv, Kamis (12/3/2026).
Menurut Shekarchi, sejak dimulainya agresi AS-Israel pada akhir Februari lalu, Iran sebenarnya telah menahan diri dengan hanya menargetkan pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Namun ia memperingatkan, skala serangan Iran dapat meluas jika Washington benar-benar menyerang infrastruktur vital di wilayah selatan Iran.
Peringatan itu juga muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Amerika Serikat akibat lonjakan harga energi dan komoditas global yang dipicu oleh memanasnya konflik di Teluk Persia.
Harga minyak dunia sendiri terus merangkak naik sejak awal pekan ini, terutama setelah Iran memperketat pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Di sisi lain, Shekarchi membantah klaim militer Amerika Serikat yang menyebut operasi mereka telah membuat kapal-kapal angkatan laut Iran terjebak di dermaga pelabuhan selatan Iran.
“Kami menilai laporan itu seratus persen tidak benar. Itu adalah kebohongan,” ujar Shekarchi kepada televisi pemerintah Iran.
Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siap tempur dan tidak akan ragu untuk meningkatkan operasi militer jika situasi mengharuskannya.
“Angkatan bersenjata berdiri teguh. Jika diperlukan, kami siap melakukan operasi yang jauh lebih besar daripada yang telah dilakukan sejauh ini,” pungkasnya.



