telusur.co.id - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa tindakan militer negaranya di kawasan merupakan bentuk pembelaan diri yang sah sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai "agresi militer terang-terangan" dari Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Baqaei melalui unggahan di platform media sosial X pada Senin malam (13/7/2026), sebagai tanggapan atas pernyataan juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan keprihatinan terkait serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan serta terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Menurut Baqaei, situasi yang terjadi bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan kelanjutan dari tindakan yang sebelumnya dilakukan Washington dan Israel terhadap Iran.
"Situasi ini bukanlah 'konfrontasi militer', melainkan kelanjutan dari agresi militer terang-terangan yang dimulai pada 28 Februari oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran," tulis Baqaei.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak menjadi pihak yang memulai konflik. Menurutnya, langkah militer yang diambil Teheran merupakan pelaksanaan hak untuk mempertahankan diri sebagaimana diatur dalam hukum internasional.
"Iran tidak menyerang di mana pun. Serangan Iran terhadap pangkalan militer dan aset milik Amerika Serikat yang berada di pantai selatan Teluk Persia merupakan pelaksanaan hak membela diri yang melekat berdasarkan hukum internasional," ujarnya.
Baqaei juga menyebut negara-negara regional yang menjadi lokasi keberadaan fasilitas militer Amerika Serikat memiliki tanggung jawab untuk mencegah wilayah mereka digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.
Ia meminta negara-negara tersebut tidak membiarkan wilayahnya dimanfaatkan untuk tindakan yang menurut Teheran dapat memperburuk ketegangan di kawasan.
Lebih lanjut, Baqaei mengkritik pihak-pihak yang menurutnya hanya menyoroti tindakan Iran tanpa meminta pertanggungjawaban pihak lain yang dituduh melakukan pelanggaran hukum internasional.
Ia menyebut sikap yang hanya menyalahkan Iran atas tindakan pembelaan diri, sementara mengabaikan dugaan agresi sebelumnya, sebagai tindakan yang "tidak bertanggung jawab".



