telusur.co.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan panggilan telepon dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pada Selasa, menanggapi meningkatnya ketegangan di Teluk Persia setelah kedatangan kapal induk AS USS Abraham Lincoln di wilayah tersebut. Langkah militer AS ini dikaitkan dengan ancaman serangan terhadap Iran menyusul tindakan keras Teheran terhadap demonstran, yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Dalam percakapan itu, Pezeshkian mengecam “ancaman” Amerika Serikat, menyebutnya sebagai upaya untuk mengganggu keamanan kawasan yang hanya akan menimbulkan ketidakstabilan. Ia menegaskan bahwa tekanan ekonomi dan campur tangan eksternal baru-baru ini gagal melemahkan ketahanan dan kesadaran rakyat Iran.
Sementara itu, Putra Mahkota Saudi menanggapi dengan menegaskan komitmen Arab Saudi terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan regional. Menurut pernyataan resmi, Mohammed bin Salman menekankan pentingnya solidaritas negara-negara Islam dan menolak segala bentuk agresi atau eskalasi terhadap Iran. Riyadh juga siap membangun perdamaian dan keamanan di seluruh kawasan.
Kantor Berita Resmi Saudi (SPA) melaporkan bahwa Pangeran Mohammed menegaskan posisi Arab Saudi untuk menghormati kedaulatan Iran. Ia menyatakan Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayahnya digunakan untuk aksi militer terhadap Teheran, atau untuk serangan dari pihak mana pun. Selain itu, Putra Mahkota Saudi menekankan dukungan untuk penyelesaian perselisihan melalui dialog guna meningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan.
Presiden Pezeshkian menyampaikan rasa terima kasih atas sikap tegas Saudi dalam menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Iran, serta mengapresiasi peran Putra Mahkota dalam mendorong upaya dan inisiatif menuju keamanan regional.
Percakapan ini menjadi sorotan penting di tengah ketegangan antara AS dan Iran di Teluk Persia, sekaligus menunjukkan peran diplomasi Saudi sebagai penyeimbang di kawasan yang rawan konflik. [ham]



