telusur.co.id - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan semakin memburuk seiring terus berlanjutnya konflik. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Gaza menyatakan bahwa kondisi perumahan di wilayah tersebut kini telah memasuki "fase bencana", menyusul rusaknya ratusan ribu unit hunian sejak konflik meletus pada Oktober 2023.
Mengutip laporan Kantor Berita Qatar (QNA), kementerian menyebut hampir 410.000 unit rumah mengalami kerusakan, baik sebagian maupun total, sehingga memperparah krisis tempat tinggal bagi warga sipil.
Akibat kondisi tersebut, lebih dari 350.000 keluarga Palestina dilaporkan sangat membutuhkan tempat tinggal sementara. Banyak di antara mereka masih hidup di lokasi pengungsian darurat dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.
Kementerian juga mengungkapkan bahwa sekitar dua juta warga Palestina yang mengungsi kini menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan tempat berlindung yang layak. Situasi semakin diperparah oleh sekitar 60 juta ton puing bangunan yang masih menutupi berbagai wilayah di Gaza, sehingga menghambat proses evakuasi, pembersihan, maupun rekonstruksi.
Menurut otoritas setempat, kerusakan infrastruktur yang meluas membuat upaya penyediaan hunian sementara menjadi tantangan besar. Mereka kembali menyerukan dukungan internasional untuk mempercepat bantuan kemanusiaan, termasuk penyediaan tempat tinggal darurat dan percepatan proses pemulihan wilayah yang terdampak.
Data mengenai tingkat kerusakan dan kebutuhan kemanusiaan di Gaza dapat berbeda antar lembaga. Berbagai organisasi internasional terus melakukan penilaian lapangan untuk memperbarui informasi mengenai dampak konflik dan kebutuhan warga sipil di wilayah tersebut.



