telusur.co.id -Komite Sepak Bola Mini Indonesia (KSMI) Jawa Timur mulai mematangkan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jatim 2027. Selain menyiapkan atlet, organisasi tersebut juga membenahi struktur kepengurusan dan sistem pembinaan sepak bola mini di sejumlah daerah.
Persiapan itu dibahas dalam agenda penyusunan program kerja KSMI Jawa Timur periode 2026–2027 pada 22 Agustus 2026. Sejumlah agenda menjadi perhatian, mulai dari persiapan PORPROV Jatim 2027, seleksi dan pembinaan atlet, pembentukan kepengurusan tingkat kabupaten/kota, hingga penguatan organisasi dan pendanaan.
Ketua KSMI Jawa Timur, Johny Hartono Poernomo, bersama jajaran pengurus membahas sejumlah langkah yang akan dijalankan organisasi dalam periode tersebut. Sementara itu, Sekretaris Jenderal KSMI Jawa Timur, Berton Sitanggang, memaparkan program, strategi, serta rencana kerja yang telah disiapkan.
Persiapan menuju PORPROV Jatim 2027 menjadi salah satu agenda utama. KSMI Jawa Timur menyusun roadmap yang dimulai dari koordinasi dan konsolidasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) serta Pengurus Kabupaten/Pengurus Kota (Pengkab/Pengkot).
Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyusunan regulasi dan teknis pertandingan, finalisasi lokasi pertandingan dan kebutuhan pendukung, hingga seleksi serta pemusatan latihan atlet.
Setelah menjalani pemusatan latihan, para atlet akan mengikuti uji coba dan evaluasi sebelum memasuki ajang PORPROV Jatim 2027 yang ditargetkan berlangsung pada Mei hingga Juli 2027.
KSMI Jawa Timur memilih memulai persiapan sejak Agustus 2026 agar proses pembinaan memiliki waktu yang cukup. Dengan pola tersebut, kesiapan atlet diharapkan tidak hanya diukur dari kemampuan bertanding, tetapi juga mencakup aspek fisik, teknik, taktik, dan mental.
Pembinaan atlet juga diarahkan menggunakan sistem talent scouting dan seleksi secara berjenjang. Penjaringan talenta akan dilakukan melalui sekolah, klub atau sekolah sepak bola (SSB), serta berbagai turnamen yang berlangsung di Jawa Timur.
Atlet yang terjaring kemudian mengikuti tahapan seleksi mulai dari tingkat kabupaten/kota, wilayah, hingga provinsi. Sistem tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun basis data atlet dan pemetaan talenta yang dapat digunakan sebagai dasar pembinaan secara berkelanjutan.
Berdasarkan roadmap yang disusun, koordinasi dengan KONI serta Pengkab/Pengkot dimulai pada Agustus 2026. Penyusunan regulasi dan teknis pertandingan dijadwalkan pada September, sedangkan finalisasi lokasi dan kebutuhan pertandingan dilakukan pada Oktober.
Tahap seleksi dan pemusatan latihan direncanakan berlangsung pada November 2026. Selanjutnya, uji coba dan evaluasi atlet dilakukan mulai Desember 2026 hingga Februari 2027 sebelum memasuki tahapan menuju pelaksanaan PORPROV Jatim 2027 pada Mei–Juli 2027.
Di luar persiapan kompetisi, KSMI Jawa Timur juga menaruh perhatian pada penguatan organisasi di tingkat daerah. Pembentukan kepengurusan kabupaten/kota dinilai penting untuk memperluas basis pembinaan sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi klub, atlet, pelatih, dan wasit untuk berkembang.
Dukungan terhadap agenda tersebut juga datang dari MaxOne Hotel Dharmahusada Surabaya yang membuka ruang bagi komunitas untuk melakukan kegiatan dan berdiskusi mengenai pengembangan olahraga.
Marcomm Manager MaxOne Hotel Dharmahusada Surabaya, Indiana Jivat Rosidi, mengatakan dukungan terhadap kegiatan dan komunitas seperti KSMI merupakan bagian dari upaya hotel untuk membuka ruang bagi berbagai aktivitas masyarakat dan komunitas.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena kami ingin MaxOne Hotel Dharmahusada bukan hanya menjadi tempat untuk menginap, tetapi juga menjadi rumah yang ramah bagi komunitas. Kami terbuka untuk menjadi ruang bertemu, berdiskusi, dan menjalankan berbagai kegiatan positif bersama komunitas. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Indiana Jivat Rosidi.
Bagi KSMI Jawa Timur, penguatan organisasi dan pembinaan atlet merupakan dua hal yang saling berkaitan. Struktur organisasi yang lebih kuat di daerah diharapkan dapat mendukung proses pencarian dan pembinaan atlet secara lebih terarah.
Dengan demikian, pengembangan sepak bola mini tidak berhenti pada persiapan menghadapi satu kompetisi. KSMI Jawa Timur juga ingin membangun ekosistem yang memberi kesempatan kepada atlet, klub, pelatih, wasit, dan pengurus daerah untuk berkembang secara berkelanjutan.
Ke depan, KSMI Jawa Timur akan melanjutkan pengembangan kompetisi, pembinaan atlet, serta penguatan organisasi di berbagai wilayah. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas basis sepak bola mini sekaligus meningkatkan prestasi Jawa Timur di tingkat provinsi maupun ajang lainnya.



