telusur.co.id - Pemerintah Iran mengecam keras pembunuhan Komandan Brigade Qassam, Izz al-Din al-Haddad, yang tewas dalam serangan Israel di Gaza.
Melalui pernyataan resmi, pihak Kementerian Luar Negeri Iran menyebut aksi tersebut sebagai tindakan terorisme dan menilai serangan itu mencerminkan “keputusasaan dan ketidakberdayaan” Israel dalam menghadapi perlawanan Palestina.
Dalam pernyataannya, Iran juga menyampaikan belasungkawa kepada Hamas, rakyat Palestina, serta umat Muslim di seluruh dunia atas tewasnya al-Haddad bersama istri dan anaknya.
“Iran mengutuk keras tindakan teroris rezim Zionis dalam pembunuhan Izz al-Din al-Haddad beserta keluarganya,” demikian isi pernyataan tersebut.
Iran menilai pembunuhan para pemimpin Palestina merupakan bagian dari strategi Israel untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina. Tehran juga menuding Amerika Serikat ikut bertanggung jawab karena dianggap menjadi pendukung utama Israel secara militer, politik, dan finansial.
Menurut Iran, serangan-serangan terhadap tokoh perlawanan Palestina justru tidak akan menghentikan gerakan perlawanan. Sebaliknya, tindakan tersebut dinilai akan semakin memperkuat semangat perjuangan rakyat Palestina.
“Penghapusan fisik para komandan perlawanan tidak akan menghentikan jalan perlawanan, melainkan akan menginspirasi generasi pejuang berikutnya,” lanjut pernyataan itu.
Sebelumnya, Hamas pada Sabtu mengonfirmasi bahwa Izz al-Din al-Haddad tewas dalam serangan Israel yang terjadi Jumat malam di kawasan Remal, sebelah barat Kota Gaza.
Menurut Hamas, al-Haddad tewas bersama istri, putri, serta sejumlah warga sipil Palestina lainnya.
Sumber medis di Gaza menyebutkan sedikitnya tiga warga Palestina tewas dalam serangan terhadap kendaraan sipil, sementara empat lainnya meninggal akibat serangan terhadap sebuah bangunan di wilayah yang sama.
Hamas menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terbaru Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata di Gaza dan bagian dari agresi berkelanjutan terhadap warga sipil Palestina.
Ketegangan di Gaza sendiri terus meningkat di tengah operasi militer Israel yang masih berlangsung dan tekanan internasional yang semakin besar untuk menghentikan konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.



