Mesin Ekstrem Tumbuhkan Ekonomi Cina di Atas 8% Selama Tiga Dekade, 1979-2010 - Telusur

Mesin Ekstrem Tumbuhkan Ekonomi Cina di Atas 8% Selama Tiga Dekade, 1979-2010

Flyer Denny JA 2026; “Mesin Ekstrem Tumbuhkan Ekonomi Cina di Atas 8% Selama Tiga Dekade, 1979-2010”

telusur.co.idOleh : Denny JA

Pada malam hari di awal 1990-an, dari jendela kereta yang melaju pelan antara Guangzhou dan Dongguan, tampak pemandangan yang tak biasa.

Cahaya pabrik menyala sepanjang horizon. Asap tipis menggantung di udara. Truk-truk mengantre di pelabuhan kecil.

Para buruh, sebagian masih remaja, berjalan beriringan menuju barak dengan seragam yang sama.

Tidak ada baliho revolusi. Tidak ada patung ideologi. Yang ada hanyalah ritme kerja yang berulang, siang dan malam, seperti denyut jantung raksasa yang tak pernah berhenti.

Seorang insinyur Jepang yang ikut membangun pabrik elektronik di Guangdong pernah berkata lirih,
“Ini bukan lagi negara berkembang. Ini bengkel dunia.”

Apa yang ia saksikan bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil dari sebuah mesin pertumbuhan ekstrem yang sengaja dirancang.

Mesin yang bahan bakarnya bukan konsumsi, melainkan investasi dan ekspor. Mesin yang berisik, melelahkan, kadang kejam, tetapi sangat efektif.

I. Pilihan yang Tidak Populer: Menekan Konsumsi Demi Masa Depan

Sebagian besar negara berkembang bermimpi menaikkan konsumsi rakyat secepat mungkin. Cina justru memilih jalan sebaliknya.

Sejak awal reformasi, konsumsi rumah tangga Cina sengaja ditekan. Upah tumbuh lambat. Jaring pengaman sosial minim. Tabungan dipaksa tinggi.

Secara teori, ini terdengar kejam. Secara politik, ini berisiko. Namun secara strategis, inilah keputusan inti.

Mengapa?

Karena Deng Xiaoping dan para perancang ekonomi Cina memahami satu hal mendasar. Negara miskin tidak bisa tumbuh cepat jika surplus nasional habis untuk memuaskan kebutuhan hari ini.

Cina memilih mengalihkan sumber dayanya ke investasi jangka panjang: pabrik, jalan, pelabuhan, pembangkit listrik.

Dalam pengamatan Yasheng Huang, keberhasilan awal Cina justru lahir dari paradoks. Negara membuka ruang kapitalisme, tetapi menahannya dalam disiplin keras. 

Rumah tangga dipaksa menabung bukan karena mereka kaya, melainkan karena sistem tidak memberi banyak pilihan.

Di sinilah negara bertindak sebagai pengarah surplus nasional, bukan sekadar wasit pasar. Pertumbuhan dipercepat, tetapi dengan harga yang dibayar oleh konsumsi rakyat.

Negara berfungsi seperti orang tua keras yang menunda kesenangan anak demi pendidikan jangka panjang.

Dalam bahasa ekonomi, Cina mengorbankan present consumption demi future capacity.

II. Investasi sebagai Agama Negara

Tak ada negara besar lain dalam sejarah modern yang menjadikan investasi sebagai poros utama pembangunan seperti Cina.

Rasio investasi terhadap PDB Cina secara konsisten berada di kisaran 35 hingga 45 persen, jauh di atas rata-rata dunia. Angka ini bukan anomali statistik. Ia adalah ekspresi ideologis baru: pembangunan sebagai iman kolektif.

Negara membangun jalan tol sebelum mobil ada, pelabuhan sebelum ekspor melonjak, dan kota industri sebelum penduduk pindah.

Banyak ekonom Barat mencibir. Mereka menyebutnya over-investment dan white elephant.

Namun Cina memahami logika berbeda. Kapasitas harus mendahului permintaan. Infrastruktur bukan respon, melainkan undangan.

Barry Naughton mencatat bahwa negara Cina secara sadar menciptakan kapasitas berlebih sebagai strategi. 

Infrastruktur dibangun bukan karena pasar menuntut, melainkan karena negara ingin membentuk masa depan. Ketika jaringan logistik, listrik, dan kota industri sudah tersedia, dunia tidak punya pilihan selain datang dan mengisi ruang yang telah disiapkan.

Ketika kapasitas tersedia, dunia datang.

III. Peran Negara: Bank, BUMN, dan Kredit Terarah

Mesin investasi ekstrem ini tidak mungkin berjalan tanpa negara yang kuat.

Di Cina, bank bukan sekadar lembaga keuangan. Mereka adalah perpanjangan tangan kebijakan pembangunan. Kredit tidak dialirkan netral mengikuti sinyal pasar. Ia diarahkan.

BUMN bukan sekadar perusahaan. Mereka adalah instrumen strategis. Mereka membangun sektor berat, menjaga harga input, dan menahan gejolak siklus.

Kredit murah diberikan kepada sektor prioritas. Risiko ditanggung bersama. Efisiensi sering dikorbankan demi skala dan kecepatan.

Dalam sistem ini, kerugian jangka pendek bukan kegagalan. Ia adalah biaya belajar. Negara bertindak sebagai investor paling sabar.

Inilah perbedaan mendasar dengan kapitalisme Anglo-Saxon. Cina tidak percaya pasar selalu tahu arah terbaik. Pasar perlu dipandu, bahkan dipaksa.

IV. Industri: Dari Barang Murah ke Mesin Kompleks

Pertumbuhan Cina tidak digerakkan oleh satu jenis industri. Ia berevolusi melalui tahapan yang sadar.

Tahap pertama adalah industri ringan. Pakaian, sepatu, mainan. Padat karya, margin tipis, tetapi menyerap jutaan tenaga kerja desa.

Tahap kedua adalah industri menengah. Elektronik sederhana, peralatan rumah tangga, komponen otomotif.

Tahap ketiga adalah industri berat dan teknologi. Baja, petrokimia, mesin, hingga semikonduktor dan kecerdasan buatan.

Setiap tahap dibangun di atas tahap sebelumnya. Tidak melompat. Tidak melawan logika keterampilan tenaga kerja.

Inilah kejeniusan Cina. Learning by doing dilakukan dalam skala raksasa.

V. Ekspor: Dunia sebagai Pasar, Negara sebagai Penjamin

Ekspor adalah ujung tombak mesin pertumbuhan Cina. Namun ekspor Cina bukan hasil spontan kompetisi pasar bebas.

Ia adalah hasil orkestrasi. Nilai tukar dijaga kompetitif. Insentif ekspor disediakan. Logistik dipermudah. Diplomasi ekonomi digerakkan.

Cina tidak menunggu pembeli. Ia menjemput pasar.

Masuknya Cina ke WTO pada 2001 menjadi titik balik. Dunia membuka pintu. Cina masuk dengan kesiapan industri yang telah dipupuk selama dua dekade.

Dalam satu dekade, Cina menjelma menjadi eksportir terbesar dunia.

Namun keberhasilan ini menyimpan kerentanan. Ketergantungan pada permintaan global membuat Cina rentan terhadap krisis eksternal. Tahun 2008 menjadi peringatan keras. Ketika dunia batuk, Cina ikut demam.

VI. Surplus Tenaga Kerja: Berkah yang Tidak Abadi

Salah satu bahan bakar utama mesin pertumbuhan Cina adalah surplus tenaga kerja desa.

Ratusan juta orang pindah ke kota. Mereka bekerja panjang, menabung sedikit, dan mengirim uang ke kampung. Ini menciptakan upah rendah, daya saing tinggi, dan stabilitas sosial sementara.

Namun ini bukan sumber daya abadi.

Demografi berubah. Upah naik. Desa mengering.

Cina sadar bahwa mesin lama akan aus.

Karena itu, sejak 2010-an, fokus mulai bergeser ke produktivitas dan inovasi. Mesin pertumbuhan ekstrem memasuki fase baru, lebih lambat, lebih kompleks, dan lebih rapuh.

VII. Harga yang Dibayar: Lingkungan dan Ketimpangan

Mesin yang bekerja tanpa henti meninggalkan bekas.

Langit kelabu di Beijing. Sungai tercemar. Kota pesisir makmur, pedalaman tertinggal. Ketimpangan melebar.

Cina menunda masalah-masalah ini dengan satu asumsi. Pertumbuhan akan memberi ruang untuk memperbaiki segalanya nanti.

Apakah asumsi itu benar? Sejarah masih menilai.

Yang jelas, pertumbuhan ekstrem selalu datang dengan biaya ekstrem.

VIII. Refleksi Filosofis: Etika Menunda Kenikmatan

Jika Bab 1 (esai sebelumnya) adalah tentang keberanian mengubah ideologi, Bab 2 (esai saat ini) adalah tentang etika menunda kenikmatan.

Dalam dunia yang memuja konsumsi instan, Cina memilih asketisme kolektif. Rakyat menabung, negara membangun. Hari ini dikorbankan demi besok.

Dalam filsafat klasik, ini disebut virtue of patience. Dalam politik, ini disebut disiplin otoritarian. Dalam ekonomi, ini disebut high investment-led growth.

Apa pun namanya, hasilnya nyata.

Namun pertanyaan etis tetap menggantung. Apakah negara berhak memutuskan kapan rakyat boleh menikmati hasil kerjanya?

Cina menjawab ya, demi stabilitas dan kemakmuran jangka panjang.

Dunia lain mungkin menjawab berbeda.

Penutup: Mesin yang Tidak Bisa Ditiru Mentah-Mentah

Mesin pertumbuhan ekstrem Cina adalah keajaiban sejarah ekonomi modern. Ia menjelaskan bagaimana negara komunis bisa berubah menjadi kekuatan kapitalistik terbesar dunia.

Namun mesin ini lahir dari konteks unik. Negara kuat. Kontrol politik ketat. Populasi besar. Kesediaan kolektif untuk menunda kesejahteraan.

Tidak semua negara bisa, atau mau, meniru.

Pelajaran sejatinya bukan pada skalanya, melainkan pada konsistensi strategi dan kejelasan prioritas.

Pertumbuhan ekstrem bukan hasil kebetulan. Ia adalah hasil pilihan sadar, dengan harga yang diketahui dan risiko yang diterima.

Kini, ketika mesin itu melambat, Cina memasuki bab berikutnya. Bab yang lebih sulit, lebih sunyi, dan lebih filosofis. Bagaimana tumbuh tanpa berlari, dan makmur tanpa merusak diri sendiri.

*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum Satupena, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).


Tinggalkan Komentar