Keputusan Partai Thailand Raksa Chart yang mencalonkan saudara perempuan raja, Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi, sebagai calon perdana menteri menjelang pemilihan 24 Maret berbuntut panjang.
Pencalonan Putri Ubolratana tak hanya dibatalkan oleh KPU. Kini, Partai Thailand Raksa Chart dibubarkan oleh Mahkamah Kontitusi Thailand.
Mahkamah Konstitusi “telah memutuskan untuk membubarkan partai”, kata Hakim Twekiat Menakanist, yang melarang 14 eksekutif partai dari politik selama satu dekade. Keputusan membubarkan partai tersebut disepakati secara bulat oleh sembilan hakim.
Sementara Thai Raksa Chart bukan merupakan partai pro-Thaksin terbesar, pembubarannya diharapkan akan melemahkan strategi pendukungnya dengan menerjunkan beberapa partai terpisah dengan harapan mendapatkan lebih banyak kursi untuk para loyalis Thaksin.
Aturan pemilihan baru yang diberlakukan oleh pemerintah militer yang keluar menguntungkan partai-partai kecil dengan mengorbankan partai-partai pemenang suara ketika 150 kursi partai dibagikan di Dewan Perwakilan Rakyat dengan 500 kursi.
Seorang ilmuwan politik, Thitinan Pongsudhirak mengatakan “Membubarkan Thai Raksa Chart … akan menyebabkan semacam pencabutan hak karena Thailand Raksa Chart membentuk sejumlah besar tim partai pro-Thaksin,” ujar Thitinan Pongsudhirak kepada kantor berita Reuters.
Dia juga mengatakan pelarangan Thailand Raksa Chart tidak mungkin menghasilkan lebih sedikit suara untuk partai-partai pro-Thaksin dan lebih banyak untuk yang pro-militer.
Pemilih yang bertujuan mendukungnya hanya akan beralih ke partai pro-Thaksin lainnya. “Struktur polarisasi Thailand dengan Thaksin dan apa yang dia perjuangkan sebagai garis patahan tetap kurang lebih sama,” katanya. (ham)



