telusur.co.id - Pemerintah Brasil berencana mengerahkan pasukan Garda Nasional ke negara bagian Roraima, wilayah perbatasan utara yang berbatasan langsung dengan Venezuela. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan regional dan kehadiran kelompok bersenjata ilegal yang terlibat dalam perdagangan narkoba serta tambang ilegal di kedua sisi perbatasan.
Dekrit resmi yang diterbitkan pada Kamis mengizinkan pengerahan Pasukan Keamanan Publik Nasional (FNSP) ke kota Pacaraima dan ibu kota Roraima, Boa Vista. Pasukan tersebut akan mendukung aparat keamanan lokal dengan mandat menjaga ketertiban umum dan keselamatan masyarakat.
Situasi di perbatasan semakin tegang setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu. Menyusul peristiwa itu, Brasil menutup sementara perbatasannya dengan Venezuela di dekat Pacaraima. Media Brasil melaporkan bahwa Venezuela memperkuat kehadiran militernya di perbatasan, sementara kelompok bersenjata seperti PCC dan Komando Merah dari Brasil, serta milisi Venezuela, aktif beroperasi di kawasan tersebut.
Menurut Gimena Sanchez, Direktur Andes di Kantor Washington untuk Amerika Latin (WOLA), pengerahan pasukan Brasil merupakan langkah tepat untuk memperkuat keamanan perbatasan. Ia menilai kekerasan yang dipicu kelompok pemberontak Kolombia di Venezuela mendorong penduduk bergerak ke arah selatan menuju Brasil. Namun, Sanchez menekankan bahwa hingga kini belum terjadi eksodus massal warga Venezuela.
Brasil sendiri mengkritik keras serangan AS. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva melalui media sosial X menyebut tindakan Washington telah melewati “batas yang tidak dapat diterima.” Meski demikian, Sanchez menilai komentar Lula tidak akan memicu konfrontasi langsung dengan AS, karena perhatian Washington saat ini lebih tertuju pada Kuba, Meksiko, dan Kolombia. Ia menambahkan bahwa sejumlah negara Eropa juga mengecam serangan AS, sehingga kecil kemungkinan Brasil menjadi sasaran kemarahan pemerintahan Trump. [ham]




