PSSI Gaungkan Kampanye Global Tolak Pekerja Anak di Laga Timnas Indonesia Versus Mozambik - Telusur

PSSI Gaungkan Kampanye Global Tolak Pekerja Anak di Laga Timnas Indonesia Versus Mozambik

Maskot timnas Indonesia membawa papan bertuliskan aksi kampanye global Red Card to Child Labour. Foto: dok. PSSI.

telusur.co.id -PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) resmi menjalin kerja sama dengan International Labour Organization (ILO) Indonesia dan Timor-Leste untuk menggaungkan kampanye global Red Card to Child Labour.

Kampanye tersebut dilakukan di sela pertandingan Garuda Championship Series 2026 antara Indonesia melawan Mozambik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Selasa (9/6).

Aksi solidaritas sosial ini menjadi bagian dari peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang diperingati setiap 12 Juni. Di hadapan hampir 30 ribu penonton yang memadati SUGBK, berbagai pesan edukatif terkait penghapusan pekerja anak ditampilkan melalui layar stadion.

Suasana semakin semarak ketika manifesto kampanye dibacakan oleh announcer stadion. Maskot Timnas Indonesia, Shakti, juga turut berkeliling lapangan sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Red Card to Child Labour” sebagai simbol penolakan terhadap eksploitasi anak.

Gerakan global tersebut pertama kali diinisiasi ILO pada 2002 dengan mengadopsi simbol kartu merah dalam sepak bola sebagai lambang pengusiran terhadap praktik pekerja anak. Setahun kemudian, kerja sama strategis dengan FIFA berhasil menggerakkan komunitas sepak bola dunia untuk mendukung kampanye tersebut.

Setelah lebih dari dua dekade bergulir di tingkat internasional, momentum bersejarah akhirnya tercipta di Indonesia melalui kolaborasi antara PSSI dan ILO. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masih tingginya angka pekerja anak, khususnya di sektor pertanian, perikanan, dan sektor informal.

Melalui langkah tersebut, PSSI resmi menjadi federasi sepak bola kelima di dunia yang terlibat dalam gerakan Red Card to Child Labour. Sebelumnya, kampanye yang lahir di Jenewa, Swiss, pada 2003 itu telah diadopsi oleh FIFA, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) pada 2003, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 2004, serta Federasi Sepak Bola China (CFA) pada tahun yang sama.

“Keikutsertaan kami dalam kampanye Red Card to Child Labour merupakan bentuk komitmen nyata PSSI dalam mendukung percepatan penghapusan pekerja anak. Kami berharap gerakan dari lapangan hijau ini mampu memberikan kontribusi besar bagi masa depan anak-anak di Indonesia dan dunia,” kata Ketua Umum PSSI, Erick Thohir dalam keterangannya, Jumat (12/6).

PSSI menilai sepak bola tidak lagi sekadar menjadi olahraga, melainkan telah berkembang menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai kalangan. Karena itu, besarnya pengaruh dan fanatisme sepak bola dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk mengedukasi publik sekaligus mencegah anak-anak terjerumus ke dunia kerja pada usia dini.

“Sama seperti kartu merah yang mengakhiri pelanggaran di lapangan hijau, kita harus menghentikan praktik pekerja anak di kehidupan nyata. Setiap anak berhak untuk bermain, belajar, tumbuh, dan bebas dari segala bentuk eksploitasi,” ujar Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh.


Tinggalkan Komentar