telusur.co.id - Pasangan ganda putra Indonesia, Muhammad Rian Ardianto dan Rahmat Hidayat, harus menghentikan langkah lebih awal pada babak 32 besar Malaysia Masters 2026 setelah takluk dari unggulan kedua asal Jepang, Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi.
Bertanding di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Rian/Rahmat menyerah dalam dua gim langsung dengan skor 18-21, 18-21. Meski kalah, pasangan Indonesia tersebut tetap menunjukkan optimisme untuk bangkit pada turnamen berikutnya.
Rahmat mengakui performa mereka belum sesuai harapan dalam beberapa turnamen terakhir. Namun, ia menegaskan hasil minor tersebut tidak akan mematahkan semangat mereka untuk terus berkembang.
“Dari hasil-hasil pertandingan kami memang belum baik, tapi itu bukan halangan untuk ke depan. Kami pasti ingin tampil lebih baik lagi, terutama nanti di Indonesia Open. Semoga hasilnya bisa lebih memuaskan,” ujar Rahmat dalam keterangan resmi PP PBSI, Selasa.
Pasangan ini kini langsung mengalihkan fokus ke Indonesia Open 2026 yang akan berlangsung pada 2–7 Juni mendatang.
Sementara itu, Rian menilai laga kontra pasangan Jepang berlangsung sangat ketat. Meski tampil tanpa kendala cedera dan sudah berusaha mengimbangi permainan lawan, mereka kalah dalam detail-detail kecil yang sangat menentukan.
“Pertama-tama tetap bersyukur karena bisa bermain lancar tanpa cedera. Pertandingan hari ini memang tidak mudah karena lawan adalah pasangan yang sangat solid dan sudah lama bermain bersama,” kata Rian.
Menurutnya, kunci kekalahan terletak pada penguasaan bola depan, servis, serta banyaknya kesalahan sendiri yang berhasil dimanfaatkan lawan.
“Kami harus lebih kuat di bola depan, servis, dan pembukaannya. Selain itu juga tidak boleh terlalu mudah membuat kesalahan sendiri,” lanjutnya.
Rian juga mengakui performa mereka musim ini belum konsisten. Dari beberapa turnamen yang dijalani, pencapaian terbaik mereka baru mencapai perempat final di All England Open, sementara di turnamen lain mereka kerap tersingkir lebih awal.
“Masih banyak yang harus dievaluasi dan ditingkatkan lewat latihan supaya kami bisa mencapai level permainan yang diharapkan,” ujar Rian.
Rahmat menambahkan, selain strategi permainan, faktor adaptasi terhadap kondisi lapangan dan shuttlecock juga menjadi tantangan tersendiri selama tampil di Malaysia Masters.
“Kami sudah mencoba semaksimal mungkin. Selain harus siap dengan pola permainan lawan, kami juga dituntut cepat beradaptasi dengan kondisi lapangan, angin, dan shuttlecock. Sayang hasilnya belum memuaskan,” tutup Rahmat.



