Santri Didorong Berani Bereksperimen di Era Digital - Telusur

Santri Didorong Berani Bereksperimen di Era Digital

Webinar bertajuk “Santri Melek Digital: Peran Kampus Digital dalam Pendidikan Pesantren” yang diselenggarakan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Senin (26/01/2026). Foto: tangkapan layar webinar.

telusur.co.id -JAKARTA - Keberanian santri untuk belajar, bereksperimen, dan memanfaatkan teknologi menjadi kunci utama agar pesantren tidak tertinggal di era digital. 

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar bertajuk “Santri Melek Digital: Peran Kampus Digital dalam Pendidikan Pesantren” yang diselenggarakan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Senin (26/01/2026). 

Hadir sebagai narasumber adalah Junaidi Alfan, Founder Elfan AI Academy dan Irvan Cahyadi, Dosen Bisnis Digital UICI. 

Junaidi Alvan, menekankan bahwa penguasaan teknologi tidak selalu dimulai dari fasilitas yang serba lengkap, melainkan dari keberanian untuk mencoba. 

Ia berbagi pengalaman saat masih menjadi santri pada awal 1990-an, ketika akses teknologi di pesantren nyaris tidak tersedia.

“Waktu itu pesantren belum punya komputer, tapi saya sudah punya sendiri. Karena milik sendiri, saya berani praktik dan tidak takut rusak. Dari situ saya belajar bahwa keberanian adalah kunci,” ujarnya.

Menurut Junaidi, keterbatasan latar belakang bukan penghalang untuk berinovasi. Terinspirasi oleh tokoh teknologi dunia seperti Bill Gates dan Steve Jobs, ia meyakini santri dan anak-anak desa juga memiliki potensi yang sama untuk berkontribusi melalui teknologi, meski berasal dari lingkungan dengan infrastruktur terbatas.

Ia menuturkan, latar belakangnya sebagai santri dan anak kampung justru membentuk ketekunan dalam belajar. Junaidi mengisahkan bahwa listrik baru sepenuhnya masuk ke kampung halamannya pada 2023. Sebelumnya, ia sempat merasakan program listrik masuk desa berbasis panel surya pada awal 1990-an yang memantik ketertarikannya pada energi terbarukan.

“Dari situ saya berpikir, tanpa genset pun matahari bisa menjadi sumber energi. Itu yang kemudian membawa saya fokus di bidang energi dan teknologi,” jelasnya.

Semangat menuntut ilmu tersebut membawanya melakukan riset ke Tiongkok pada 2015. Ia menyebut semangat menuntut ilmu hingga ke negeri Cina sebagai motivasi untuk memahami lompatan teknologi dan industri di negara tersebut. 

Narasumber lainnya, Irfan Cahyadi, S.M., M.M., memaparkan konsep pesantrenpreneur sebagai model kewirausahaan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan praktik bisnis. 

Menurutnya, pesantrenpreneur menjadi strategi penting untuk membangun kemandirian ekonomi santri dan pesantren.

“Pesantrenpreneur harus berpijak pada nilai keumatan, seperti orientasi ibadah, kejujuran, amanah, transparansi, dan tanggung jawab sosial,” ujar Irfan.

Ia menambahkan, pengembangan usaha pesantren tidak hanya berdampak pada kemandirian operasional, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi santri. 

Meski demikian, keterbatasan sumber daya manusia, manajemen tradisional, serta akses permodalan masih menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. (ari)


Tinggalkan Komentar