telusur.co.id - Wacana 'Koalisi Besar' kembali mencuat setelah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) bertemu dengan Presiden Joko Widodo. PDIP pun disebut berpotensi bergabung jika terbentuk Koalisi Besar tersebut.
Menurut politisi senior PDIP, Andreas Hugo Pareira, koalisi dengan siapapun masih terbuka kemungkinan. Termasuk terbentuknya Koalisi Besar.
"Kemungkinan-kemungkinan masih terbuka, dalam dinamika dan perubahan-perubahan yang mungkin akan sangat cepat dalam beberapa waktu ke depan," kata Andreas kepada wartawan, Jumat (7/4/23).
Andreas berharap, jika koalisi besar terealisasi dapat mengedepankan semangat gotong royong untuk bersama memenangkan Pilpres 2024.
Termasuk dalam hal ini mendukung calon presiden yang mampu menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa.
“Semoga kerjasama ini mengedepankan semangat gotong royong untuk bersama memenangkan pilpres dengan mendukung calon yang mampu menjawab tantangan bangsa ini dan melankutkan spirit dan etos kerja pemerintahan Jokowi,” paparnya.
Kendati demikian, Andreas menegaskan, keputusan akhir bergabungnya PDIP dalam rencana koalisi besar tersebut berada di tangan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
“Bukan saja soal menunggu perintah Ketum, tetapi memang wilayah prerogatif Ketum,” pungkas Andreas.
Gagasan peleburan parpol anggota KIB dan KIR mencuat usai Presiden Jokowi memberikan restu dengan menyatakan bahwa kedua koalisi itu cocok jika bergabung jadi satu Koalisi Besar. Namun, Jokowi menyerahkan kepada para ketua umum parpol untuk menentukan keputusannya sendiri.
"Saya hanya bilang cocok, terserah kepada ketua-ketua partai atau gabungan ketua partai,” kata Jokowi di Kantor DPP PAN, Jakarta Selatan, Minggu (2/4/23).
Di kantor DPP PAN, Jokowi menghadiri acara silaturahmi antara Presiden dengan ketua umum partai politik pendukung pemerintah. Ketua umum yang hadir di antaranya, Ketua Umum PAN Zukifli Hasan; Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto; Ketum PKB Muhaimin Iskandar; Ketum PPP M. Mardiono; dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Seusai pertemuan tertutup tersebut, Jokowi sempat ditanya mengenai isi pertemuan. Salah satunya mengenai kemungkinan pembahasan tentang pembentukan koalisi besar yang menggabungkan KIR dan KIB.
Jokowi menjelaskan, dalam pertemuan tersebut hanya para ketua partai yang berbicara. Sementara Jokowi mengaku hanya mendengarkan. Meski demikian, Jokowi mengatakan koalisi KIR dan KIB cocok saja untuk melebur. Dia mengatakan setiap rencana yang baik untuk negara harus didukung.
"Untuk kebaikan negara untuk kebaikan bangsa untuk rakyat, hal yang berkaitan bisa dimusyawarahkan itu akan lebih baik,” kata Jokowi.[Fhr]



