telusur.co.id - Belakangan ini rasanya hati kita capek banget. Sedihnya datang bertubi-tubi, terutama buat kita yang sayang dengan mamalia lembut ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI), Singky Soewadji.
“Bulan lalu, kita dengar kabar Gajah mati, kepalanya dipotong dan diambil gadingnya. Belum sempat reda rasa kesalnya, muncul lagi kabar Gajah mati karena pagar listrik. Mungkin mereka cuma lewat. Mungkin mereka cuma cari jalan. Bukan mau merusak, bukan mau bikin masalah. Tapi lagi-lagi mereka yang jadi korban,” ujarnya. Senin, (23/2/2026).
Aktivis Pecinta Satwa ini menambahkan, Gajah betina mati dan tiga lainnya masih sekarat di kebun binatang Pematang Siantar milik Ketum Perhimpunan Kebun Binatang Se Indonesia (PKBSI), Rahmat Shah yang telah menjabat selama lima periide (21 tahun hingga sekarang).
Dan beberapa hari yang lalu, Gajah masuk ke pemukiman. Mereka terlihat datang beramai-ramai ke perumahan. Mungkin mereka sudah bingung. Mungkin hutan tempat mereka mencari makan sudah terlalu sempit.
“Bisa jadi mereka cuma lapar. Bisa jadi mereka cuma butuh ruang untuk hidup, yang dulu memang milik mereka,” papar Pemerhati Satwa ini.
Yang menyedihkan lagi, lanjut Singky, seekor anak Gajah sempat masuk ke dalam septic tank perumahan. Kalau saja tidak cepat ketahuan, kita nggak tahu apa yang bisa terjadi. Padahal Gajah kecil itu adalah harapan. Cikal bakal generasi berikutnya. Masa depan yang seharusnya kita jaga.
“Di tahun kemarin, kita juga kehilangan seekor anak Gajah betina, Gajah kecil matanya indah dan teduh, tingkah lakunya lembut, selalu terlihat jinak dan penuh rasa ingin tahu. Dia adalah harapan kecil yang diitipkan untuk masa depan konservasi di Taman Nasional Tesso Nilo. Namun usianya singkat,” urainya.
Harapan Singky, semoga setelah semua duka ini, akan ada lebih banyak empati, lebih banyak perlindungan, dan lebih banyak ruang aman untuk mereka. Karena mereka bukan pengganggu. Mereka hanya ingin hidup.
“Tahun 2026 belum genap dua bulan sudah ada lima individu Gajah mati. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kau peduli, aku lestari. Salam lestari!,” tutup Pegiat Hak Binatang ini. (ari)



