telusur.co.id - Industri pertambangan yang berkelanjutan tidak cukup jika sekadar ditopang oleh besarnya cadangan sumber daya alam. Pengembangannya harus berdiri di atas keputusan yang bertujuan menghadirkan nilai tambah yang inklusif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) mendukung penuh program TAKJIL (Takaran Jilid Sektor Strategis) sebagai forum bedah data untuk menyingkap angka, asumsi, dan rasionalisasi di balik kebijakan strategis.
"Sehingga publik memahami dasar kebijakan serta manfaat dan dampak yang ingin dihasilkan," kata Division Head Institutional Relations MIND ID Selly Adriatika dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada Sabtu, 21 Maret 2026, di Jakarta.
Lebih lanjut, Selly menegaskan bahwa forum ini dibangun guna meraih masukan konstruktif demi menghasilkan peta jalan yang menghadirkan manfaat lebih luas.
"TAKJIL berangkat dari pertanyaan dasar dan struktural bagi pemerintah, investor, mitra, hingga masyarakat luas yakni seberapa besar kontribusi nyata sektor mineral dan batu bara, dan kebijakan lanjutan apa yang dibutuhkan selanjutnya," terangnya.
Selain itu, kontribusi ekonomi sektor mineral dan batu bara tampak jelas dalam neraca Produk Domestik Bruto. Berdasarkan data BPS yang dipaparkan Kementerian ESDM, kontribusi subsektor pertambangan dan penggalian pada PDB Indonesia 2023 mencapai sekitar Rp 2.198 triliun atau ±10,5% dari total PDB, dan menegaskan peran strategis minerba sebagai penopang struktur ekonomi nasional di luar manufaktur dan jasa.
Kendati demikian, kontribusi pertambangan dan Penggalian pada 2024 hanya sebesar 8,75 persen, yang mengartikan bahwa perlunya rekalibrasi kebijakan berbasis data menjadi relevan agar kontribusi sektor ini tetap menguat ke depan. Sumbangan sektor ini terhadap kas negara tercermin dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kementerian ESDM mencatat realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tercatat di pembukuan Kementerian ESDM sebesar Rp138,37 triliun.
Keberhasilan melampaui target ini didorong oleh kontribusi signifikan dari beberapa subsektor, yang terbesar berasal dari PNBP sektor Sumber Daya Alam (SDA) Mineral dan Batubara (Minerba) yang mencapai 104,38 persen dari target.
Kontribusi dividen BUMN menjadi prasyarat diskusi TAKJIL, karena di sinilah dampak kinerja operasional bermuara ke pendapatan negara. MIND ID berada di jajaran penyetor dividen terbesar; untuk tahun buku 2024, MIND ID menyetujui pembagian dividen Rp 20,1 triliun kepada negara. Sumbangan dividen ini lebih besar dari tahun buku 2023 yang tercatat Rp 17,14 triliun. Kenaikan ini menegaskan peran MIND ID sebagai salah satu motor kontribusi ekonomi dan dividen di antara BUMN strategis.
Dalam fokus bedah data kebijakan, TAKJIL ingin menghadirkan sebuah kebijakan lanjutan yang mampu mengulang keberhasilan Indonesia dalam mengelola kekayaan alam mineral dan batu bara.
Sebagaimana diketahui bersama, larangan ekspor mineral mentah seperti larangan ekspor bijih nikel yang mengubah lanskap rantai nilai dan arus penerimaan negara sejak 2020. Sebelum kebijakan, Indonesia mengandalkan ekspor ore sehingga nilai tambah banyak dinikmati di luar negeri, padahal Indonesia memegang cadangan nikel terbesar dunia—sekitar 55 juta ton.
Saat kebijakan bergulir, investasi smelter melonjak dan produksi nikel Indonesia menanjak hingga pada akhirnya Indonesia meraih pangsa ±59,5% produksi nikel global dan diproyeksikan kian dominan ke depannya. Indonesia sekarang telah membuka lembaran baru untuk membangun ekosistem EV battery yang berbasis di Karawang untuk mampu menjawab pengembangan industri kendaraan listrik dan energi storage.
Melalui pembahasan mendalam, forum ini tidak berhenti pada angka hasil, tetapi juga bagaimana bauran kebijakan menjaga keseimbangan demi masa depan sektor industri pertambangan Indonesia.
“TAKJIL adalah ruang terbuka. Kami mengajak semua pihak untuk memahami, bukan sekadar menerima, setiap kebijakan yang kami ambil,” tegas Selly.
“Kami selalu mendukung narasi konstruktif yang berlandaskan data sehingga kita bisa melangkah bersama menuju masa depan yang lebih maju,” tambahnya.
Dengan fondasi data yang kuat dan narasi yang terbuka, MIND ID berharap seluruh pemangku kepentingan dapat tumbuh bersama dalam ekosistem industri pertambangan yang kuat dan dan tumbuh secaara berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.



