telusur.co.id -Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) akan genap berusia 96 tahun pada 19 April 2026. Momentum bertambahnya usia federasi sepak bola di tanah air ini dimanfaatkan sebagai ajang refleksi sekaligus mempertebal optimisme untuk menembus panggung dunia pada 2030 mendatang.
Melalui diskusi bertajuk Water Break - PSSI Pers: "96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030" yang digelar PSSI Pers di GBK Arena, Jakarta, Kamis (16/4), berbagai pemangku kepentingan duduk bersama membedah arah masa depan sepak bola nasional.
Ketua Umum PSSI periode 2023-2027, Erick Thohir, yang hadir langsung dalam acara tersebut, mengakui bahwa perjalanan PSSI selama hampir satu abad penuh dengan dinamika. Meski Timnas Indonesia belum berhasil mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026, Erick menegaskan bahwa transformasi liga dan pembinaan usia muda menunjukkan tren positif.
"Liga menunjukkan performa yang lebih baik. Indikatornya, peringkat kita naik ke posisi 18 dari sebelumnya 25," ujar Erick dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa kegagalan di kualifikasi sebelumnya tidak berarti program nasional berhenti di tengah jalan. Sinergi antara tim nasional di berbagai kelompok umur tetap menjadi prioritas utama.
Seperti diketahui, timnas Indonesia harus mengubur mimpi lolos ke Piala Dunia 2026 usai gagal pada babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Skuad Garuda takluk oleh Arab Saudi dan Irak.
"Untuk tim nasional, kita memang belum konsisten. Tetapi, bukan berarti program berhenti. Tim U-17 terus berjalan bersama pelatih, tim putri juga terus didorong," ungkap Erick.
Target menembus Piala Dunia 2030 kini menjadi fokus baru. Erick menyebut kehadiran pelatih kenamaan, John Herdman, merupakan langkah strategis dalam menyusun cetak biru kekuatan baru Indonesia.
"Terakhir, kita harus punya mimpi. Memang mimpi tidak mudah, tetapi harus diperjuangkan. Jika kita berbicara tentang Piala Dunia 2030, itu juga menjadi mimpi kita bersama," tegas pria yang menjabat sebagai Menpora tersebut..
Senada dengan hal tersebut, pengamat sepak bola kawakan, Hadi 'Ahay' Gunawan, menilai kualitas skuad Garuda saat ini merupakan salah satu yang terbaik dalam sejarah. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era keemasan tahun 1985.
"Jika kita melihat ke tahun 1985, saat itu level kita tidak kalah dari Korea Selatan dan Jepang. Masyarakat pun masih melihat Indonesia setara dengan mereka," kenang Hadi.
Menurutnya, progres menuju kualifikasi terakhir menunjukkan bahwa Indonesia mulai kembali disegani di kancah Asia. "Kualitas kita meningkat dan mulai setara dengan negara-negara Asia lainnya. Menurut saya, secara tim, ini adalah salah satu tim terbaik yang pernah dimiliki Indonesia," pungkasnya.
Di sisi lain, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Hasnuryadi Sulaiman, menekankan bahwa keyakinan kolektif adalah kunci. Baginya, target 2030 bukan sekadar angan-angan, melainkan sasaran yang realistis.
"Jika tahun 1985 dianggap sebagai tim terbaik, maka menurut saya tim saat ini adalah yang terbaik yang kita miliki. Kita harus yakin bahwa pada 2030 kita bisa lolos ke Piala Dunia," kata Hasnur.
Dukungan juga datang dari sisi psikologis tim. Legenda Timnas Indonesia, Rochy Putiray. Rochy mengingatkan publik untuk memberikan energi positif kepada para pemain alih-alih terus-menerus melontarkan kritik destruktif tanpa harus mencaci maki individu tertentu.
"Jangan hanya mencari kesalahan. Yang penting adalah bagaimana membuat mereka lebih kuat dan termotivasi ke depan," pesan Rochy.
Diskusi ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi sepak bola lainnya, seperti Direktur Operasional I.League Asep Saputra, Ketua Umum Federasi Futsal Indonesia Michael Sianipar, serta Direktur Utama GSI Marsal Masita. Diskusi yang diinisiasi oleh PSSI Pers ini diharapkan mampu menjadi wadah evaluasi rutin guna menjaga asa Indonesia di pentas sepak bola internasional.



