telusur.co.id - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Gedung Putih menyatakan bahwa serangan udara menjadi salah satu dari “banyak pilihan” yang sedang dipertimbangkan, di tengah gelombang protes besar-besaran yang mengguncang Iran dan memicu tindakan keras aparat keamanan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi opsi utama, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
“Satu hal yang sangat dikuasai Presiden Trump adalah selalu mempertimbangkan semua pilihannya. Dan serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak pilihan yang ada dalam pertimbangan panglima tertinggi,” ujar Leavitt kepada wartawan.
Iran dilanda kerusuhan nasional yang dipicu krisis ekonomi dan berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik. Pasukan keamanan menanggapi dengan tindakan keras yang menewaskan ratusan orang, menurut laporan aktivis oposisi. Otoritas Iran mengakui puluhan personel keamanan juga tewas. Angka pasti sulit diverifikasi karena pemadaman internet yang berlangsung selama beberapa hari.
Trump sebelumnya telah membom fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu dan berulang kali mengancam serangan lebih lanjut jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington. Kali ini, ia menggunakan tindakan keras terhadap demonstran sebagai alasan untuk menimbang opsi militer baru.
“Presiden telah menunjukkan bahwa dia tidak takut menggunakan opsi militer jika dan ketika dia menganggap perlu, dan tidak ada yang lebih tahu tentang hal itu selain Iran,” tambah Leavitt.
Meski ancaman militer menguat, laporan Wall Street Journal menyebut sejumlah pejabat pemerintahan, termasuk Wakil Presiden JD Vance, mendesak Trump agar mempertimbangkan jalur diplomasi atau alternatif lain yang lebih lunak. Trump sendiri mengklaim bahwa Iran telah “menelepon” dan menyatakan keinginan untuk bernegosiasi.
Leavitt menuding Iran menyampaikan pesan berbeda secara publik dan privat. “Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan yang diterima pemerintah secara pribadi,” katanya.
Jika serangan militer benar-benar dilakukan, langkah tersebut berisiko melanggar hukum internasional dan memperburuk ketegangan lama antara Washington dan Teheran. Ancaman ini menambah ketidakpastian di kawasan, di tengah krisis domestik Iran yang belum mereda. [ham]




