Jamu tidak hanya dikenal sebagai bagian dari tradisi pengobatan masyarakat Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, jamu juga berkembang sebagai produk kesehatan yang dipasarkan kepada masyarakat di Hindia Belanda.
Jejak tersebut diungkap Profesor Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan University of Sydney, Prof. Hans Pols, PhD, dalam Masterclass and International Conference on the History of Medicine in Indonesia (HOMI).
Konferensi internasional tersebut diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (24/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Majapahit, ASEEC Tower UNAIR itu mengangkat tema Crossroads of Healing: Indonesia in Global Medical Networks.
Dalam pemaparan bertajuk Introduction Medicine without Physicians: Health, Disease, and Self-Care in the Dutch East Indies, Prof. Hans mengulas berbagai praktik kesehatan masyarakat di Hindia Belanda.
Salah satu yang dibahas adalah keberadaan produk pengobatan tradisional seperti jamu yang tidak hanya digunakan dalam praktik kesehatan masyarakat, tetapi juga diperkenalkan dan dipasarkan sebagai produk yang dapat dipilih serta dibeli oleh konsumen.
Prof. Hans menjelaskan, perkembangan jamu pada masa Hindia Belanda tidak hanya berkaitan dengan praktik pengobatan tradisional. Jamu juga berkembang sebagai produk kesehatan yang dipasarkan kepada masyarakat.
Pengenalan produk dilakukan melalui berbagai materi promosi. Salah satunya berupa buklet yang memuat informasi mengenai produk sekaligus harga yang ditawarkan.
“Melalui buklet, masyarakat dapat menggunakan informasi tersebut untuk memilih dan memesan produk yang dibutuhkan,” jelas Prof. Hans.
Buklet tersebut tidak hanya berisi daftar produk. Di dalamnya juga terdapat keterangan mengenai berbagai penyakit serta saran penggunaan produk yang ditawarkan.
Menurut Prof. Hans, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas pemasaran produk kesehatan pada masa itu berjalan bersamaan dengan penyebaran pengetahuan mengenai penyakit dan pilihan pengobatan kepada masyarakat.
Ia juga menunjukkan Jamu Cap Jago sebagai salah satu contoh produk yang telah dikenal sejak 1918. Buklet produk tersebut mencantumkan berbagai jenis penyakit yang dapat menjadi rujukan masyarakat dalam menentukan produk yang akan digunakan.
“Keberadaan katalog dan materi promosi memperlihatkan bahwa jamu memiliki sejarah yang lebih luas dari sekadar warisan pengobatan. Jamu juga menjadi bagian dari cara masyarakat memperoleh informasi dan memilih produk kesehatan pada masa itu,” terangnya.
Lebih lanjut, Prof. Hans menjelaskan bahwa perkembangan sistem pengobatan modern turut memengaruhi posisi jamu di tengah masyarakat.
Jamu kemudian tetap hadir sebagai salah satu pilihan pengobatan ketika sistem medis modern mulai berkembang. Dalam konteks tersebut, respons masyarakat menjadi salah satu aspek penting untuk melihat bagaimana pengobatan tradisional bertahan dan berkembang.
Menurut Prof. Hans, ketika suatu metode pengobatan tradisional dinilai memiliki manfaat oleh masyarakat, pengetahuan yang berkembang di dalamnya dapat dipelajari dan dikembangkan dalam sistem pengobatan modern.
Pada saat yang sama, pengobatan tradisional tetap memiliki ruang sebagai pilihan alternatif bagi masyarakat.
“Saya tidak dapat memastikan apakah jamu benar-benar bekerja. Namun, masyarakat menikmatinya dan terus membeli produk tersebut. Mungkin bagi mereka jamu memang memberikan manfaat, tetapi mungkin juga tidak,” pungkasnya.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa sejarah jamu tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara masyarakat memperoleh pengetahuan kesehatan. Dari praktik pengobatan tradisional hingga pemasaran melalui katalog dan buklet, jamu telah menjadi bagian dari dinamika kesehatan masyarakat di Hindia Belanda.
Jejak tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan jamu bukan hanya mengenai ramuan dan praktik pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan, perdagangan, promosi, serta cara masyarakat menentukan pilihan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan.