Jumat Berkah, antara Keberkahan dan Daya Dukung Pergerakan Mahasiswa

by Arianto Deni |
Jumat Berkah, antara Keberkahan dan Daya Dukung Pergerakan Mahasiswa
“Jumat Berkah” di Warung Pergerakan "Inspiring To Success" (ITS).

SURABAYA - Kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, seporsi makanan hangat yang diberikan dengan tulus dapat menjadi penguat langkah seseorang untuk melanjutkan perjuangan. Dari semangat itulah program “Jumat Berkah” di Warung Pergerakan "Inspiring To Success" (ITS) terus berjalan, merawat kepedulian melalui tindakan nyata yang sederhana, tetapi bermakna.

Pada Jumat, 9 Oktober 2026, Warung Pergerakan ITS kembali menggelar “Jumat Berkah #16” dengan membagikan makanan gratis untuk makan di tempat. Dimulai pukul 13.00 WIB, seusai salat Jumat, kegiatan ini terbuka terutama bagi mahasiswa yang membutuhkan, serta masyarakat dari berbagai kalangan. Pembagian berlangsung hingga kuota makanan habis.

Pada pelaksanaan kali ini, menu yang disajikan berupa nasi uduk, semur ayam, tahu, dan es teh. Namun, lebih dari sekadar urusan mengisi perut, kegiatan ini membawa pesan bahwa kepedulian sosial harus diwujudkan dalam tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh mereka yang membutuhkan.

Program ini terutama ditujukan bagi mahasiswa ITS, PENS, PPNS, Universitas Airlangga Kampus C, dan UHT. Di tengah aktivitas perkuliahan, tugas akademik, dan keterbatasan ekonomi yang dihadapi sebagian mahasiswa, tersedianya makanan yang layak dapat menjadi dukungan sederhana agar mereka tetap bersemangat menuntut ilmu dan mempersiapkan masa depan.

Penerima manfaatnya tidak terbatas pada mahasiswa. Para pengemudi ojek daring, pengantar paket, buruh, pekerja informal, kaum duafa, anak sekolah, serta masyarakat lain yang membutuhkan juga dipersilakan untuk datang. Semangatnya sederhana: siapa pun yang membutuhkan, sepanjang masih tersedia, dapat merasakan manfaatnya tanpa harus dibatasi oleh latar belakang atau status sosial.

Hingga pelaksanaan Jumat Berkah ke-16, Warung Pergerakan ITS telah menyalurkan total lebih dari 1.500 porsi makanan siap saji yang dinikmati langsung di warung. Jumlah porsi yang disediakan mencapai ratusan dalam setiap pelaksanaan dan terus bertambah dari Jumat ke Jumat berikutnya. Konsistensi ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak cukup berhenti sebagai niat baik, tetapi membutuhkan komitmen untuk terus dikerjakan.

Sita Pramesthi, pengelola Warung Pergerakan menyatakan bahwa Jumat Berkah merupakan inisiatif dan gerakan kolaboratif para alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lintas generasi, jurusan, dan profesi. Melalui Warung Pergerakan ITS yang mengusung semangat Inspiring To Success, para alumni berupaya menghadirkan ruang berbagi sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi.

Menariknya, keberlangsungan program ini tidak bertumpu pada satu pihak atau satu bentuk kontribusi. Ada alumni yang mendukung melalui penyediaan fasilitas, donasi dana, keterlibatan tenaga, pemanfaatan akses dan jaringan, hingga berbagai bentuk dukungan nonmaterial lainnya. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti dalam menjaga agar kegiatan ini terus berjalan dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

"Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian dapat tumbuh menjadi kekuatan bersama ketika setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Tidak semua orang harus memberi dalam bentuk yang sama. Ada yang membantu dengan materi, ada yang meluangkan waktu dan tenaga, ada pula yang membuka akses, menghubungkan jaringan, serta menyumbangkan gagasan dan dukungan moral. Ketika seluruh potensi itu dipertemukan, kebaikan tidak lagi bergantung pada satu atau dua orang, melainkan tumbuh menjadi gerakan bersama yang lebih kuat dan berkelanjutan,” urai Sita.

Bagi para alumni, keterikatan dengan almamater bukan sekadar kenangan masa kuliah. Ia juga merupakan kesempatan untuk meneruskan nilai kebersamaan melalui kontribusi nyata bagi mahasiswa dan masyarakat. Jumat Berkah menjadi salah satu wujud bahwa jejaring alumni dapat diubah menjadi energi sosial yang manfaatnya dirasakan secara langsung.

Lebih dari sekadar tempat makan dan berbagi, Warung Pergerakan ITS juga diharapkan menjadi ruang alternatif bagi perjumpaan dan kolaborasi aktivis lintas generasi, mahasiswa, dan alumni. Ruang ini dibangun di atas semangat kebersamaan dan kepedulian, tanpa harus selalu terikat pada wadah formal atau sekat kelembagaan. Sebab, menjaga hubungan, saling membantu, bertukar gagasan, dan merawat idealisme tidak selalu membutuhkan struktur dan prosedur formal. Formalitas memang dapat menjadi sarana pengorganisasian, tetapi jika terlalu dominan, ia berisiko menjadi sekat yang membatasi keterbukaan atau menggeser perhatian dari tujuan bersama.

Warung Pergerakan ingin menghadirkan ruang yang lebih cair, terbuka, dan inklusif, tempat siapa pun dapat bertemu, membangun jejaring, serta mengubah semangat persaudaraan menjadi tindakan nyata. Dengan demikian, hubungan mahasiswa dan alumni tidak berhenti sebagai ikatan almamater, tetapi terus tumbuh menjadi kekuatan kolektif untuk saling menguatkan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Radian Jadid, relawan yang membersamai Jumat Berkah ini menjelaskan bahwa program ini menjadi bentuk dukungan riil terhadap gerakan mahasiswa yang berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kepentingan masyarakat. Mahasiswa memiliki peran penting sebagai insan akademis, agen perubahan, dan penjaga moral. Idealisme tersebut perlu dirawat, salah satunya melalui lingkungan yang memungkinkan mahasiswa tetap belajar, berdiskusi, bergerak, dan memperjuangkan kebaikan bersama.

Dalam konteks itu, kepedulian terhadap kebutuhan dasar mahasiswa bukanlah hal yang terpisah dari kehidupan intelektual dan gerakan sosial. Sebaliknya, dukungan konkret dapat menjadi bagian dari upaya menjaga semangat mereka agar tetap tumbuh dan berdaya.

"Warung Pergerakan ITS berharap Jumat Berkah dapat menjadi oase di tengah dinamika kehidupan kampus dan pergerakan mahasiswa. Sebuah ruang sederhana yang mempertemukan kepedulian, solidaritas, dan harapan.

Perubahan menuju masyarakat yang lebih baik tidak hanya dibangun melalui gagasan besar dan pidato panjang. Perubahan juga tumbuh dari kesediaan untuk berbagi, meringankan beban sesama, dan memastikan bahwa tidak seorang pun harus berjalan sendirian dalam perjuangannya. Dari seporsi makanan, semoga tumbuh semangat untuk terus belajar, berkarya, bergerak, menguatkan idealisme dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” tandas Jadid. (ari)

Komentar

Berita Terkait