Hasil PISA 2025, Pakar UNAIR Soroti Tantangan Pendidikan Indonesia

by Arianto Deni |
Hasil PISA 2025, Pakar UNAIR Soroti Tantangan Pendidikan Indonesia
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Tuti Budirahayu, Dra., M.Si.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menjadi salah satu gambaran kondisi pendidikan Indonesia. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis hasil asesmen tersebut pada 8 September 2026.

Dalam hasil PISA 2025, Indonesia mencatat peningkatan pada bidang sains dan literasi membaca dibandingkan hasil asesmen sebelumnya. Sementara itu, capaian numerasi atau matematika mengalami penurunan.

Hasil tersebut mendapat perhatian dari Guru Besar Sosiologi Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Tuti Budirahayu, Dra., M.Si.

Menurut Prof. Tuti, hasil PISA tidak cukup dibaca sebatas angka atau skor. Capaian tersebut perlu dilihat melalui perspektif sosiologi pendidikan untuk memahami kondisi proses belajar, lingkungan pendidikan, serta berbagai faktor sosial yang memengaruhi kemampuan siswa.

Prof. Tuti mengatakan kenaikan skor PISA 2025 pada sejumlah bidang dapat menunjukkan adanya perbaikan iklim belajar di sekolah.

Ia berharap peningkatan tersebut merupakan hasil dari kerja keras tenaga pendidik dan perbaikan proses pembelajaran, bukan sekadar faktor kebetulan.

Namun, posisi Indonesia yang masih menghadapi tantangan dalam capaian pendidikan menunjukkan bahwa peningkatan skor tersebut belum menyelesaikan persoalan pendidikan secara keseluruhan.

Prof. Tuti juga menyoroti perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan tersebut memberikan kemudahan bagi siswa untuk memperoleh informasi dan mendukung proses belajar.

Di sisi lain, menurutnya, kemudahan tersebut dapat memengaruhi motivasi siswa untuk menjalani proses belajar secara serius dan mendalam.

“Menurunnya skor PISA dapat dibaca sebagai stagnasi kualitas pendidikan di Indonesia yang berlangsung selama bertahun-tahun dan berkaitan dengan ketidaksesuaian kebijakan pendidikan. Selain itu, siswa kini dihadapkan pada kemajuan teknologi komunikasi. Seperti media digital dan kecerdasan buatan (AI), yang memudahkan proses belajar. Tetapi juga dapat menurunkan semangat siswa untuk belajar secara serius dan mendalam,” ujarnya.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, Prof. Tuti menyampaikan bahwa skor PISA tidak hanya merefleksikan kemampuan individual siswa. Capaian tersebut juga dapat menjadi gambaran mengenai kondisi sistem pendidikan secara lebih luas.

Menurutnya, capaian yang masih rendah menunjukkan perlunya integrasi berbagai kebijakan pendidikan. Ia juga menilai pemerintah perlu memiliki arah pembangunan pendidikan yang berkelanjutan dengan target yang terukur.

“Negara atau pemerintah tidak memiliki blue print pendidikan di Indonesia dalam jangka panjang dengan target capaian terukur menembus ruang dan waktu untuk mengatasi atau melampaui berbagai kepentingan politik praktis,” ungkapnya.

Selain kebijakan, Prof. Tuti menilai dukungan lingkungan sosial atau support system bagi siswa juga perlu diperkuat.

Dukungan tersebut mencakup peran keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam menyediakan lingkungan belajar, materi, serta pengetahuan yang dapat menunjang perkembangan siswa.

“Keluarga berperan memberikan dukungan belajar kepada anak. Sementara itu, iklim belajar di sekolah perlu mendorong siswa berpikir kritis, inovatif, dan kreatif melalui kurikulum formal maupun kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) untuk membentuk siswa yang berkualitas,” sambungnya.

Menurut Prof. Tuti, pembentukan kualitas siswa tidak hanya berlangsung melalui materi yang diberikan dalam kurikulum formal. Lingkungan sekolah dan berbagai pengalaman yang diperoleh siswa juga menjadi bagian dari proses pendidikan.

Prof. Tuti mengatakan penguatan proses pembelajaran dan kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman perlu menjadi perhatian dalam pembenahan pendidikan.

Selain kualitas pembelajaran, pemerataan akses pendidikan, fasilitas, dan sarana belajar juga perlu diperkuat. Perhatian khusus diperlukan bagi wilayah terpencil, terluar, terdalam, dan terisolasi yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan.

Ia menilai proses pembelajaran perlu diarahkan tidak hanya pada pencapaian akademik, tetapi juga kemampuan siswa menghadapi persoalan nyata.

“Proses pembelajaran baik di kelas maupun di sekolah, seharusnya berfokus pada aspek-aspek dasar seperti kemampuan berpikir kritis, literasi keuangan digital, dan pemecahan masalah yang kolaboratif. Selain itu, transformasi kurikulum, inovasi model-model pembelajaran yang responsif dan inovatif, serta pemerataan akses dan fasilitas belajar di Indonesia harus menjadi prioritas,” pungkasnya.

Hasil PISA 2025 dengan demikian dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat perkembangan kemampuan siswa sekaligus menelaah berbagai faktor yang memengaruhi kualitas pendidikan.

Bagi Prof. Tuti, pembenahan pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kebijakan, kurikulum, proses pembelajaran, dukungan keluarga dan sekolah, hingga pemerataan fasilitas agar peningkatan kualitas pendidikan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Komentar

Berita Terkait