I.League menyatakan dukungan penuh terhadap sikap tegas Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam merespons sejumlah insiden kekerasan yang belakangan mencoreng sepak bola Indonesia.
Sebagai bentuk tindak lanjut, I.League membuka ruang penguatan regulasi dan Kode Disiplin bersama PSSI. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pemberian sanksi lebih berat kepada klub, termasuk pengurangan poin apabila terjadi pelanggaran serius dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menilai langkah tegas diperlukan untuk menjaga perkembangan kompetisi sekaligus melindungi klub, pemain, suporter, dan seluruh ekosistem sepak bola nasional.
"Kami sepenuhnya mendukung sikap Ketua Umum PSSI. Sepak bola Indonesia sedang berkembang ke arah yang semakin baik. Kompetisi semakin kompetitif, atmosfer stadion semakin hidup, dan suporter tim tamu akhirnya kembali bisa hadir. Semua kemajuan ini harus kita jaga. Jangan sampai tindakan kekerasan justru membawa sepak bola kita kembali mundur," ujar Ferry Paulus dikutip Sabtu (17/10/2016).
I.League menyayangkan sejumlah insiden kekerasan yang terjadi belakangan ini, termasuk kejadian yang menimpa rombongan pemain EPA U-18 Persib Bandung serta suporter Persija Jakarta.
Menurut I.League, rivalitas antarklub maupun antarsuporter merupakan bagian dari dinamika sepak bola. Namun, rivalitas tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain.
Ferry menilai kemajuan kompetisi harus berjalan beriringan dengan peningkatan tanggung jawab klub dan kelompok suporter. Karena itu, ketentuan disiplin dinilai perlu diperkuat agar sanksi yang diberikan dapat memberikan efek jera sekaligus mencegah terjadinya konflik serupa.
"Melihat perkembangan dan potensi konflik yang mulai muncul, kami berpandangan bahwa ketentuan hukuman perlu diperkuat. Sanksi tidak boleh hanya berhenti pada denda atau hukuman yang tidak memberikan efek jera. Kami siap berkoordinasi dengan PSSI untuk mendorong sanksi yang lebih berat, termasuk pengurangan poin bagi klub apabila terjadi pelanggaran serius sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegas Ferry.
Meski demikian, I.League menegaskan pentingnya membedakan antara pelanggaran disiplin dalam penyelenggaraan pertandingan dan tindakan kriminal yang terjadi di luar cakupan pertandingan.
Pelanggaran keamanan dan ketertiban di stadion maupun wilayah yang masuk dalam cakupan regulasi pertandingan merupakan bagian dari mekanisme disiplin sepak bola. Dalam konteks tersebut, klub memiliki tanggung jawab dan dapat dikenai konsekuensi berdasarkan regulasi yang berlaku.
Sementara itu, tindakan kriminal di luar cakupan penyelenggaraan pertandingan, seperti penyerangan dan penganiayaan, merupakan ranah penegakan hukum oleh Kepolisian. Setiap kemungkinan sanksi disiplin terhadap klub tetap harus memiliki dasar regulasi serta pembuktian yang sah.
Jaga Kesempatan Suporter Tamu
Ferry menegaskan, penguatan sanksi bukan dimaksudkan untuk membatasi kehadiran suporter. Sebaliknya, langkah tersebut justru diperlukan untuk menjaga keberlanjutan kebijakan yang memungkinkan suporter tim tamu kembali hadir di stadion pada musim ini.
Kebijakan tersebut merupakan hasil dari proses panjang untuk membangun kembali kepercayaan antara PSSI, FIFA, Kepolisian, klub, suporter, dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.
Kehadiran suporter tim tamu dinilai memberikan warna tersendiri terhadap kompetisi, sekaligus meningkatkan atmosfer dan daya tarik pertandingan.
"Kami ingin suporter tamu tetap bisa hadir. Justru karena itulah aturan harus ditegakkan lebih tegas. Jangan sampai kesempatan yang sudah diperjuangkan bersama selama ini kembali hilang hanya karena tindakan segelintir orang. Kami tidak ingin klub dan mayoritas suporter yang sudah tertib ikut menjadi korban," jelas Ferry.
Sebagai langkah lanjutan, I.League akan memperkuat evaluasi terhadap kepatuhan klub, mitigasi risiko pertandingan, koordinasi keamanan, serta pembinaan dan komunikasi dengan komunitas suporter.
Penguatan ketentuan disiplin tersebut nantinya akan dikoordinasikan bersama PSSI melalui mekanisme serta kewenangan yang berlaku.
"Ketegasan ini bukan untuk menghukum sepak bola Indonesia, melainkan untuk melindungi masa depannya. Kami ingin kompetisi terus maju, stadion semakin ramai, dan suporter bisa mendukung klub kebanggaannya dengan aman. Sepak bola kita sudah melangkah maju, dan kita tidak boleh membiarkannya mundur lagi," tutup Ferry Paulus.