SURABAYA - Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi berada di ruang yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia sudah masuk ke ruang kelas, ruang usaha, ruang kreatif, bahkan ke layar telepon genggam. Persoalannya bukan lagi apakah masyarakat akan menggunakan AI, tetapi apakah masyarakat hanya menjadi pengguna, atau mampu menguasai dan memanfaatkannya untuk menghasilkan karya dan nilai.
Semangat itulah yang dibawa ITS93 Institute melalui Parade AI ITS93, sebuah rangkaian pembelajaran AI yang dirancang untuk mendekatkan teknologi kepada masyarakat secara praktis, mudah, dan aplikatif.
Ketua Panitia PARADE AI ITS93, Heny Sulistyarini, S.T., S.Pd. (PENS IT93), menjelaskan bahwa Memasuki Chapter 3, Parade AI ITS93 menghadirkan seminar praktis “Cara Mudah Membuat Video Animasi dengan AI (2)” dengan pemateri Irwan Widiatmoko, S.T., CH., CHt., NLP Pract. (Sipil ITS93), praktisi, trainer, dan content creator. Kegiatan diselenggarakan secara hybrid, yakni secara offline di Sekretariat IKA ITS dan secara online pada Minggu (04/10/2026). Pesertanya berasal dari berbagai daerah, terutama Jawa Timur, seperti Lamongan, Surabaya, dan Malang, serta juga dari Berau, Kalimantan Timur.
Menariknya, peserta tidak dibatasi oleh latar belakang profesi. Guru dan tenaga pendidik, pelajar dan mahasiswa, pelaku UMKM, pebisnis, hingga content creator pemula ikut belajar. Sebab AI semestinya tidak menjadi teknologi eksklusif bagi mereka yang memiliki latar belakang teknologi.
Materi pelatihan diarahkan pada kebutuhan yang konkret: menemukan ide dan konsep, menggunakan AI Video Generator, melakukan editing dan finishing, memanfaatkan audio dan narasi AI, membangun storytelling visual, hingga menyiapkan karya untuk ekspor dan publikasi.
Irwan Widiatmoko mengapresiasi antusiasme peserta. Luar biasa melihat keterlibatan guru, pelajar, pelaku UMKM, hingga content creator pemula yang begitu bersemangat memanfaatkan teknologi untuk mengubah ide-ide sederhana menjadi karya visual yang menarik dan bernilai.
"Saya berharap keterampilan praktis yang dipelajari, mulai dari penyusunan ide, eksekusi AI Video Generator, hingga visual storytelling, bisa langsung diterapkan secara mandiri untuk mendukung berbagai kebutuhan edukasi, promosi, maupun pembuatan konten harian. Semoga pelatihan ini menjadi langkah awal bagi lahirnya makin banyak kreator lokal yang makin produktif, kreatif, dan berdaya saing di era digital,” tandas Irwan.
Lebih lanjut, Rini Sugiharti (Tekkim ITS93) selaku panitia menyatakan bahwa, Parade AI ITS93 memang dirancang tidak berhenti pada kemampuan teknis. Rangkaian ini akan terus dikembangkan secara bertahap hingga tingkat mahir. Karena itu, materi teknis seperti yang dibawakan Irwan menjadi fondasi awal. Selanjutnya, aspek bisnis juga akan diperkuat melalui materi yang dibawakan David Hermansyah, termasuk iklan Meta, Scalev atau landing page, serta berbagai strategi bisnis online. Dengan demikian, AI tidak hanya dipelajari untuk menghasilkan karya, tetapi juga membuka peluang ekonomi.
Di titik inilah Parade AI ITS93 menemukan maknanya. Teknologi bukan sekadar alat untuk membuat sesuatu lebih cepat. Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan.
Dari ide sederhana menjadi karya. Dari keterampilan menjadi peluang. Dari belajar menjadi keberdayaan.
"Kami dari ITS93 berharap Parade AI dapat terus berkembang menjadi ruang belajar bersama yang membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengenal, menguasai, dan memanfaatkan AI secara produktif. Karena masa depan tidak cukup hanya disaksikan,” jelas Rini.
Masa depan harus dipelajari, diciptakan, dan diisi dengan karya yang memberi manfaat bagi sesama dan negeri. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah pembelajaran, sehingga kita bisa mengarungi masa depan dengan penuh percaya diri serta kesiapan yang cukup hingga mencapai kesuksesan. (ari)