AS Izinkan Minyak Rusia Masuk Kuba di Tengah Blokade, Ketegangan Politik Meningkat - Telusur

AS Izinkan Minyak Rusia Masuk Kuba di Tengah Blokade, Ketegangan Politik Meningkat

Ilustrasi kapal tanker. foto ist

telusur.co.id - Amerika Serikat memberi izin tidak langsung bagi kapal tanker Rusia untuk mengirim minyak mentah ke Kuba di tengah blokade energi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Laporan The New York Times pada Minggu (29/3) menyebutkan kapal tersebut membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah dan dijadwalkan berlabuh di terminal Matanzas pada Selasa.

Pasokan minyak ini diperkirakan mampu menopang kebutuhan energi Kuba selama beberapa pekan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap pemerintah yang tengah menghadapi krisis ekonomi serius. Sebelumnya, pada Januari, Amerika Serikat memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba dan mengancam negara-negara yang tetap memasok bahan bakar ke negara tersebut.

Dalam sejumlah kasus sebelumnya, kapal tanker yang menuju Kuba bahkan diusir oleh otoritas AS. Namun kali ini, tidak ada tindakan pencegatan, meski Penjaga Pantai AS dilaporkan memiliki kapal patroli di sekitar perairan Kuba yang mampu menghentikan pengiriman tersebut.

Keputusan ini dinilai sebagai upaya Washington untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia di tengah meningkatnya ketegangan global. Blokade energi yang diberlakukan AS telah memperburuk kondisi di Kuba, menyebabkan pemadaman listrik, kelangkaan bahan bakar, lonjakan harga, serta penurunan kualitas layanan kesehatan.

Kebijakan tersebut juga menuai kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menilai langkah itu berkontribusi terhadap krisis kemanusiaan di Kuba.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump dilaporkan memiliki agenda lebih jauh terhadap Kuba, termasuk keinginan menggulingkan Presiden Miguel Diaz-Canel. Trump bahkan disebut mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer setelah konflik dengan Iran.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut menegaskan bahwa perubahan sistem pemerintahan di Kuba diperlukan untuk mendorong reformasi ekonomi.

Sementara itu, pemerintah Kuba menyatakan kesiapan menghadapi segala kemungkinan. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, menyebut militer negaranya dalam kondisi siaga menghadapi potensi agresi, meski tetap berharap konflik terbuka dapat dihindari.

Situasi ini semakin menambah kompleksitas geopolitik global, di tengah berbagai konflik yang berlangsung dan tekanan ekonomi yang kian meluas di berbagai kawasan dunia. [ham]


Tinggalkan Komentar