telusur.co.id - Baliho Puan Maharani terpampang di kota-kota besar di Indonesia. Baliho tersebut menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga mengatakan pemasangan baliho tentu hak setiap orang. Puan juga mempunyai hak untuk memasang fotonya di baliho.
Hanya saja, pemasangan baliho oleh seseorang tentu mempunyai tujuan tertentu. Namun, kalau Puan memasang fotonya di baliho bertujuan untuk meningkatkan elektabilitasnya, tentu ia salah memilih media. “Sebab, media baliho hanya efektif untuk menimbulkan awareness,” ujar Jamiluddin.
Jadi, sebanyak apapun foto Puan di baliho, tidak akan dapat mendongkrak elektabilitasnya. Karena itu, rendahnya elektabilitas Puan di hasil survei tak relevan dikaitkan dengan bertebarannya balihonya.
Karena itu, seseorang biasanya menggunakan baliho kalau ia merasa belum dikenal masyarakat. Melalui baliho diharapkan orang tersebut akan dikenal sehingga popularitasnya meningkat.
Seharusnya Puan sudah populer, karena ia pernah menjadi menteri dan sekarang Ketua DPR RI. Bahkan sebelumnya sudah menjadi Anggota DPR RI. Karena itu, Puan idealnya tidak memerlukan lagi baliho untuk memperkenalkan dirinya.
“Jadi, sosok Puan seharusnya tidak memerlukan baliho. Puan butuh media lain yang dapat meningkatkan elektabilitasnya. Tentu tim media Puan tahu media yang pas untuk meningkatkan elektabilitas,” tandasnya. [ham]



