telusur.co.id -Berkarier di luar negeri menjadi impian banyak lulusan bidang kesehatan. Namun, perbedaan budaya, bahasa, dan sistem kerja kerap menjadi keraguan tersendiri. Tantangan tersebut berhasil dilalui oleh Ina Titi Sri Wulandari, S.Kep., Ners., R.N., alumnus Fakultas Keperawatan (FKP) Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini mengabdikan diri sebagai perawat di Fuke Hospital, Saitama, Jepang.
Perjalanan karier Ina menjadi bukti bahwa keberanian keluar dari zona nyaman dapat membuka peluang internasional yang luas. Berbekal kompetensi profesional, daya tahan mental, serta kemampuan beradaptasi, Ina mampu meniti karier di tengah sistem pelayanan kesehatan Jepang yang dikenal ketat dan berstandar tinggi.
Sebelum berangkat ke Jepang, Ina telah memiliki pengalaman panjang di dunia kesehatan dalam negeri. Ia pernah berkarier sebagai perawat di RS PHC Surabaya, sekaligus mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Kesempatan bekerja di luar negeri datang saat Ina menemukan informasi rekrutmen perawat ke Jepang melalui program pemerintah Government to Government (G2G) dalam kerangka Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).
“Waktu itu saya hanya mencoba melamar kerja layaknya fresh graduate pada umumnya. Kebetulan saat itu hanya saya yang mendaftar untuk posisi ke Jepang,” ungkap Ina.
Keberanian tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya. Meski telah berpengalaman, Ina tetap harus mengikuti serangkaian pelatihan intensif guna menyesuaikan diri dengan standar pelayanan kesehatan Jepang sebelum akhirnya resmi bekerja di Fuke Hospital.
Bekerja di Jepang bukan sekadar berpindah tempat kerja, melainkan menuntut transformasi menyeluruh terhadap etos kerja dan cara berpikir. Ina mengakui sempat mengalami culture shock akibat perbedaan sistem alur kerja (workflow) dan budaya disiplin yang sangat ketat.
“Meskipun di Indonesia saya sudah menyandang status perawat senior, di Jepang saya harus bersedia menanggalkan ego tersebut. Saya harus memulai semuanya dari nol lagi,” tuturnya.
Menurut Ina, adaptasi di Jepang membutuhkan kerendahan hati untuk kembali menjadi “orang baru” yang patuh pada setiap regulasi. Tantangan terbesar bukan hanya terletak pada penguasaan bahasa Jepang yang kompleks, tetapi juga pada kekuatan mental untuk bertahan di bawah ekspektasi tinggi masyarakat setempat.
“Kita harus mengerti betul apa kriteria yang diinginkan orang Jepang dalam pelayanan kesehatan. Mau tidak mau, mental harus kuat karena kita tidak hanya belajar sistem medis mereka, tetapi juga cara mereka berpikir dan berinteraksi,” tambahnya.
Rutinitas kerja di Fuke Hospital menuntut kemandirian penuh dalam setiap tindakan medis. Ketelitian dan presisi menjadi standar yang tidak bisa ditawar. Proses tersebut secara perlahan membentuk Ina menjadi pribadi yang semakin tangguh, disiplin, dan profesional.
Pengalaman Ina menunjukkan bahwa kompetensi klinis saja tidak cukup untuk menembus pasar kerja global. Diperlukan pula daya tahan mental serta kemampuan adaptasi budaya yang kuat agar dapat diterima dan berkembang di lingkungan kerja internasional.




