telusur.co.id - Di balik deklarasi persatuan yang ditampilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Rusia melihat cerita yang berbeda. Moskow menilai aliansi pertahanan Barat itu belum mampu menutup retakan di antara para anggotanya, meski para pemimpin negara sekutu berupaya memperlihatkan solidaritas di hadapan dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan hubungan transatlantik masih dibayangi berbagai perbedaan kepentingan. Menurutnya, persoalan Greenland menjadi salah satu contoh yang menunjukkan bahwa keinginan Amerika Serikat tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari negara-negara sekutunya. Washington, kata Zakharova, juga masih menyimpan kekecewaan karena sejumlah anggota NATO dinilai tidak memberikan dukungan seperti yang diharapkan ketika Amerika Serikat membutuhkannya.
Di tengah dinamika tersebut, Zakharova menuding NATO tetap melanjutkan agenda memperkuat kekuatan militernya di Eropa. Aliansi itu, menurutnya, terus meningkatkan kapasitas pertahanan, memperbesar dukungan bagi Ukraina, serta menempatkan Rusia sebagai ancaman utama bagi keamanan kawasan Euro-Atlantik. Langkah-langkah itu, kata dia, menunjukkan bahwa NATO tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik bersenjata dengan Rusia.
Sementara itu, para pemimpin NATO dalam KTT Ankara justru menegaskan komitmen untuk mempertahankan dukungan kepada Kyiv. Negara-negara anggota sepakat mengalokasikan bantuan militer senilai 70 miliar euro atau sekitar 80 miliar dolar AS bagi Ukraina pada tahun ini, dengan target mempertahankan tingkat bantuan yang sama hingga 2027.
Komitmen tersebut sejalan dengan kesepakatan yang dicapai pada Juni 2025, ketika negara-negara anggota NATO menyetujui peningkatan belanja pertahanan hingga mencapai 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) masing-masing negara pada 2035. Langkah itu menandai arah baru NATO dalam memperkuat kesiapan militernya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa. [ham]



