Dorong Penanganan Bencana Jangka Panjang, Ijeck Sebut Pentingnya Kurikulum Tanggap Bencana Sejak Dini - Telusur

Dorong Penanganan Bencana Jangka Panjang, Ijeck Sebut Pentingnya Kurikulum Tanggap Bencana Sejak Dini

Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah. Foto: Ist

telusur.co.id -Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah mengatakan bila Bencana yang terjadi di Aceh, Sumut dan Sumbar harus menjadi refleksi bersama bagi semua pihak.

Politisi Golkar yang akrab disapa Ijeck itu menyebut bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti hanya pada fase tanggap darurat. Menurutnya, diperlukan langkah jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang di masa depan.

Ijeck menyampaikan bahwa penanganan bencana saat ini secara umum telah berjalan. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada penyelesaian sementara, melainkan juga pada upaya pencegahan.

“Penanganan bencana sudah terlaksana semuanya. Tinggal bagaimana pasca-bencana ini, apakah hanya selesai di sini atau kita mau jangka panjang supaya tidak terjadi bencana lagi,” kata Ijeck kepada Wartawan, Selasa (27/01/2026).

Ijeck menegaskan salah satu penyebab utama bencana banjir adalah pendangkalan sungai serta pemanfaatan bantaran sungai yang tidak sesuai peruntukan. Ia menekankan pentingnya pengerukan sungai dan penataan kawasan bantaran agar tidak lagi dijadikan pemukiman.

“Daerah-daerah sungai yang pendangkalan sungainya, sindikat dan lainnya harus segera dilakukan pengerukan. Bantaran sungai harus mulai ditata, jangan lagi ada pemukiman. Kalau tidak, pekerjaan kita akan terus berulang seperti ini,” tegasnya.

Selain infrastruktur, Legislator Golkar Dapil Sumut I tersebut juga menyoroti pentingnya edukasi kebencanaan. Ia mendorong agar materi tanggap bencana dijadikan kurikulum resmi di dunia pendidikan, mulai dari tingkat TK hingga SMA.

Ia menilai penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan lembaga seperti Basarnas tanpa kesiapan masyarakat. Namun harus menjadi perhatian bagi semua pihak.

“Tanggap bencana ini tidak bisa seperti sekarang. Tidak hanya Basarnas. Kalau bisa dijadikan kurikulum dari mulai TK, SD, SMP, SMA. Ini harus dibiasakan dari kecil,” jelasnya.

Sebagai perbandingan, Ijeck mencontohkan Jepang, di mana anak-anak sudah dibekali pengetahuan tanggap bencana sejak dini sehingga mampu meminimalkan korban jiwa saat bencana terjadi.

Terkait proses bantuan dan relokasi korban bencana, khususnya di Aceh, Ijeck memastikan bahwa seluruh tahapan tetap berjalan meski menghadapi kendala di lapangan, seperti kondisi tanah berlumpur dan keterbatasan lahan.

“Sekarang ini prosesnya tetap berjalan. Memang tidak mudah, apalagi di Aceh yang masih lumpur dan harus relokasi. Tapi progres tetap ada dan terus berjalan,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa kondisi secara umum mulai membaik, meski pemulihan belum sepenuhnya selesai.

Ijeck juga mengingatkan agar pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan ke depan harus memiliki ketahanan lebih baik terhadap potensi bencana.

“Yang terpenting jalan-jalan dan jembatan. Ini harus dipersiapkan supaya jangan sampai tidak kuat kalau bencana terjadi lagi,” tutupnya.


Tinggalkan Komentar