telusur.co.id - Anggota Komisi II DPR, Mardani Ali Sera mengatakan Organisasi Pangan Dunia (FAO) telah memprediksi akan ada krisis pangan global akibat Covid-19, termasuk di Indonesia. Melihat potret dalam negeri, Mardani ingin mengingatkan kepada pemerintah untuk tidak main-main dalam menghadapi persoalan ketahanan pangan.
"Contoh gula kita yang kian langka. Kita pun masih banyak impor dari India, tapi tersendat karena India lockdown. Belum lagi beras, INDEF merilis kemungkinan stok beras di akhir tahun hanya surplus 2,8 juta ton," bebernya.
Idealnya perlu surplus 8 juta ton sambil menunggu panen raya yang biasanya jatuh di bulan Maret.
Permasalahan ini kerap terulang tiap tahunnya dan seharusnya menjadi tamparan bagi pemangku kebijakan. Padahal Indonesia pernah menjadi yang terdepan dalam sektor agraris. Wabah Covid-19 harus dijadikan momen untuk mengembalikan hal tersebut.
Pak Jokowi, terang Mardani, juga tentu sudah mengetahui bahwa pertumbuhan sektor pangan di kuartal I-2020 hanya -0,31. Sementara solusi menyiapkan ratusan ribu hektar lahan persawahan baru dari pemerintah amat tidak tepat, terlebih saat pandemi. Risikonya terlalu besar, baik segi biaya maupun waktu panen.
"Sebaiknya pemerintah perkuat produksi pangan seperti menyalurkan fasilitas teknologi, sarana prasarana & kemudahan kredit usaha untuk petani. Tentu sambil tetap memperhatikan protokol kesehatan," anjurnya.
Selain itu, tanpa mengurangi semangat modernisasi Alat & Mesin Pertanian (Alsintan), subsisi bantuan Alsintan sementara dapat diubah dengan pembayaran langsung ke petani agar mereka dapat memilih benih terbaik secara mandiri untuk mereka tanam.
Komunikasi antar pengambil keputusan terkait pangan juga perlu dibenahi karena masih sering silang pendapat yang muncul ke publik. Jaga agar tidak ada ego sektoral. Disituasi saat ini mutlak memerlukan keputusan yang cepat dan tepat.
Terakhir yang tidak kalah penting, sudah saatnya tiap keluarga dapat berperan dengan berkebun di kediaman masing-masing. Balkon, halaman, sampai media pot dengan sistem vertikultur bisa dimanfaatkan.
Sehingga kedepan, setiap keluarga sudah siap dan memiliki kemandirian pangan dalam kondisi apapun.
"Mari selalu berjuang dan berdoa agar pandemi ini segera berakhir. Krisis pangan dapat menjadi ‘alarm’ buat kita semua bahwa masih ada krisis lain yang membayangi, yakni krisis iklim. Kita harus bersiap mencegahnya sedini mungkin," tuntasnya. [ham]



