DPR: Perppu Corona Hanya Berhasil Menambah Defisit APBN - Telusur

DPR: Perppu Corona Hanya Berhasil Menambah Defisit APBN

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Andi Akmal Pasluddin. (Foto: telusur.co.id/Fahri).

telusur.co.id - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS Andi Akmal Pasluddin mengatakan, sejak awal pihaknya menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 1 Tahun 2020 atau yang biasa disebut Perppu Corona.

"Jadi kalau kita melihat perjalanan dari Perppu no. 1 itu, dimana Perppu ini adalah yang sangat powerfull, dimana kekuasaan eksekutif itu ditambahkan, fungsi budgeting, fungsi anggaran dan fungsi yudikatif juga," kata Andi dalam diskusi Forum Legislasi bertajuk "Evaluasi Perppu Corona dan Ancaman Resesi Ekonomi" di Media Center Parlemen, Jakarta, Selasa (25/8/20).

Meski Perppu ini sangat powerfull, kata Andi, namun sejak ditetapkan pada Januari lalu, outcome yang diinginkan tidak tercapai.

"Kita melihat kalau kita bicara evaluasi, berarti ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil. Kalau saya melihat perjalanan selama ini, yang berhasil itu hanya menambah defisit APBN kita," ungkap Andi.

Dia mencatat, defisit kita ini sudah 3 kali diubah. Pertama, APBN hanya 3 persen kemudian karena adanya Perppu no. 1/2020 menjadi di atas 3 persen, kemudian defisit di atas tiga persen itu dari Perpres sudah mencapai angka 5,7 persen dari PDB.

"Jadi pertama dari APBN kita, karena saya juga anggota Banggar saat itu menetapkan bahwa APBN 2020, defisit yang hanya 300 triliun tidak boleh lebih dari 3 persen.
Kemudian melalui Perpu ini, kemudian ditetapkan 5,7 persen, 853 triliun defisitnya,” katanya.

Di perjalanan, lanjut dia, ternyata diubah lagi oleh pemerintah, sekarang sudah membengkak menjadi 1028 triliun defisit kita atau 6,7 persen dari PDB.

"Kalau berhasil pemerintah menaikkan defisit artinya hutang terus, dengan alasan bahwa ini merupakan upaya untuk pemulihan ekonomi nasional dan pemulihan kesehatan," terangnya.

Namun, hingga saat ini dia melihat tak ada keberhasilan yang dilakukan pemerintah. Karena dari segi kesehatan, jumlah positif covid-19 kurvanya terus naik.

"Orang yang terkena covid-19 juga semakin banyak. Ekonomi kita sekarang di kuartal II ini, kita sudah minus 5,32 pers , kalau nanti minus lagi pada kuartal III berarti kita sudah masuk namanya resesi technical," pungkasnya. [Tp]


Tinggalkan Komentar