telusur.co.id - Demo yang dilakukan berbagai elemen masyarakat belakangan ini dinilai ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Mereka ini dinilai ingin menurunkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Penilaian semacam itu cenderung tendensius. Mereka menyudutkan pihak tertentu tanpa berani menyebut siapa pihak-pihak yang dimaksud," ujar pengamat komunikasi lolitik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga.
Kalau memang ada yang menunggangi, seharusnya mereka bisa menunjukan hidung si penunggang. Inikan tidak, mereka hanya bisa menuding tapi yang ditunjuk mahluk penampakan.
"Para penuding itu seharusnya menghormati pendemo. Sebab, demo itu hak warga negara yang dilindungi UU."
Kalau mereka memberi stigma-stigma yang negatif kepada para pendemo, itu sama saja tidak menghormati hak orang lain dalam menyampaikan aspirasinya. Orang-orang seperti ini yang sesungguhnya tak layak hidup di negara demokrasi.
Mereka ini hanya mengenakan jubah demokrasi, namun sikap perilakunya cenderung otoriter. Mereka mengatasnamakan demokrasi, padahal mereka tidak siap berbeda pendapat.
"Jadi, biarkan aspirasi para pendemo itu tersalurkan. Tak perlu memberi stigma negatif pada mereka," dia mengingatkan.
Kalau tidak sependapat dengan aspirasi para pendemo, siapa pun dapat menyanggahnya. Sanggahlah dengan argumentasi, tanpa mencari-cari kelemahan pihak pendemo. [ham]



