telusur.co.id - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga mengatakan masuknya Sutiyono ke Partai Nasdem diharapkan dapat menambah amunisi buat partai besutan Surya Paloh menghadapi Pilpres, Pileg dan Pilkada 2024.
Soalnya Sutiyoso dua periode dipercaya memimpin DKI Jakarta. Tentu ia sangat memahami persoalan Jakarta, termasuk profil masyarakatnya.
Sutiyoso juga pernah dipercaya menjadi Kepala BIN pada periode pertama pemerintahan Joko Widodo. Dengan posisinya itu, tentu ia juga mengenal dengan baik Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Apalagi Sutiyoso dalam kancah politik pernah memimpin Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) periode 2010 - 2015. Tentu ia juga sudah memahami peta politik Indonesia.
Meskipun harus diakui, saat ia memimpin PKPI, partainya tidak lolos ke Senayan. Partai sejak berdiri awal reformasi hingga sekarang memang belum berhasil menempatkan kadernya di Senayan.
"Jadi, Sutiyoso bukan sosok yang mumpuni mengelola partai. Dia termasuk pemimpin partai yang bukan bertangan dingin," ujar Jamiluddin, Senin.
Karena itu, masuknya Sutiyoso ke Nasdem tampaknya tidak banyak yang bisa diharapkan darinya. Apalagi kalau mengharapkan dapat membesarkan Nasdem.
Kalau mau jujur, masa Sutiyoso tampaknya sudah berakhir. Kaum milenial tidak mengenal sepak terjang Sutiyoso dalam memimpin Jakarta selama dua periode.
Jadi, kehadiran Sutiyoso di Nasdem untuk membesarkan partai tampaknya sangat kecil. Figurnya mungkin bermanfaat untuk memberikan masukan kepada Nasdem berdasarkan pengalamanya selama menjdi gubernur, kepala BIN, dan memimpin partai politik. [ham]



