telusur.co.id - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahetara (PKS) Mardani Ali Sera menolak rencana pemerintah untuk melakukan impor 1 juta ton beras di musim panen pagi. "Sangat tidak tepat rencana impor dilakukan saat panen raya," tegas Mardani, Sabtu.
Di musin panen, dipastikan produksi melimpah dan kualitas gabah/beras menurun, efeknya harga pun ikut turun. Kondisi yang sedang turun ini akan makin tertekan dalam karena impor.
Jika kebijakan tetap dilaksanakan, menurut Mardani sangat tidak memperhatikan nasib para petani beras yang selama ini telah berjuang dalam situasi pandemi. "Jelas menghianati usaha petani yang amat menunggu momentum panen raya," kritiknya.
Dijelaskan Mardani, musim panen sudah terjadi puluhan tahun, alur tanam padi sudah menghasilkan alur yang 'tetap'. Panen raya di bulan Februari hingga Mei. Hasil yang didapat mencapai 60 hingga 65 % dari total produksi, dan paceklik Oktober sampai Januari. "Kemandirian pangan mestinya jadi program utama di negeri agraris ini," katanya.
Iapun mempertanyakan niat pemerintah yang gencar mengampanyekan gerakan membeli produksi dalam negeri, tapi justru mengandalkan produk luar negeri. Kata dia, rencana ini jelas kian menekan petani yang sedang menghadapi merosotnya harga gabah. “Sepertinya belum selesai masalah koordinasi & sinkronisasi yang berkaitan dengan kelembagaan pengelolaan pangan di Indonesia,” tandasnya. [ham]



