telusur.co.id - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian melontarkan peringatan keras terhadap meningkatnya retorika konflik global, menegaskan bahwa ancaman terhadap suatu bangsa tidak boleh dianggap remeh.
Dalam unggahannya di platform X pada Jumat (3/4/2026), Pezeshkian secara langsung menanggapi pernyataan mantan Presiden Donald Trump. Ia menyebut retorika tersebut bukan hanya tidak bermoral, tetapi juga berpotensi melanggar hukum internasional.
“Apakah ancaman untuk mengembalikan seluruh bangsa ke Zaman Batu hanyalah kejahatan perang biasa?” tulisnya. Ia menambahkan bahwa pertanyaan tersebut juga ia tujukan kepada seorang koleganya dari Finlandia yang ahli dalam bidang hukum.
Lebih jauh, Pezeshkian mengingatkan bahwa sejarah telah berulang kali menunjukkan bahaya dari sikap diam terhadap ancaman dan kejahatan. “Banyak yang harus membayar mahal karena memilih diam saat menghadapi para pelaku kejahatan,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas di kawasan. Iran menuding Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi.
Serangan tersebut, menurut Teheran, terjadi setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.
Gelombang serangan udara yang mengikuti peristiwa itu dilaporkan menghantam berbagai target militer dan sipil di Iran, menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur yang luas.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran kini meningkatkan operasi militernya dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai posisi Amerika dan Israel di kawasan.



