telusur.co.id - Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat, namun Iran menegaskan tidak akan menempuh langkah ekstrem seperti penanaman ranjau di Teluk Persia.
Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbia menyatakan bahwa Republik Islam Iran saat ini berada dalam posisi yang kuat dan mengendalikan penuh wilayah strategis, termasuk Selat Hormuz dan perairan Laut Oman.
“Dengan dominasi dan kekuatan yang kami miliki, tidak ada kebutuhan untuk memasang ranjau di Teluk Persia. Namun jika diperlukan, kami siap menggunakan segala cara untuk menjamin keamanan,” tegas juru bicara tersebut dalam pernyataan resmi.
Ia juga menekankan bahwa Angkatan Bersenjata Iran, bersama negara-negara kawasan, mampu menjaga stabilitas regional tanpa campur tangan pihak luar. Menurutnya, negara-negara di luar kawasan tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan keamanan di Teluk Persia.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya konflik setelah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran tanpa provokasi. Serangan itu disebut terjadi setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil pada akhir Februari.
Serangan udara yang menargetkan berbagai fasilitas militer dan sipil di Iran dilaporkan menyebabkan korban jiwa besar serta kerusakan infrastruktur yang luas.
Sebagai respons, Iran melancarkan operasi balasan dengan gelombang rudal dan drone yang menyasar posisi Amerika Serikat dan Israel di berbagai titik strategis di kawasan.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia, setiap eskalasi di wilayah ini terus memicu kekhawatiran global—terutama terkait potensi gangguan pasokan minyak dan stabilitas ekonomi internasional.
Sumber: TNA



