telusur.co.id - Situasi keamanan di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa ketidakstabilan di jalur pelayaran vital tersebut merupakan dampak langsung dari serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan Araqchi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun. Selain membahas hubungan bilateral Teheran–Seoul, keduanya juga menyoroti eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai berpotensi mengguncang ekonomi global.
Cho Hyun menyampaikan belasungkawa atas korban jiwa di Iran, termasuk warga sipil yang tewas dalam serangan di Minab. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap dampak konflik yang semakin meluas, terutama terhadap stabilitas kawasan dan jalur perdagangan internasional.
Araqchi menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam. Ia menyebut serangan yang terjadi sebagai “agresi ilegal” yang dilakukan di tengah proses negosiasi nuklir, dan menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan kedaulatan dengan segala cara.
Dalam perkembangan yang mengejutkan, Iran mengumumkan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. Kapal-kapal yang berasal dari negara-negara yang dianggap sebagai “agresor” atau pendukungnya disebut akan diblokir, sementara kapal dari negara lain masih dapat melintas dengan koordinasi bersama otoritas Iran.
Konflik ini sendiri dipicu oleh serangan besar-besaran yang disebut Iran sebagai tindakan tanpa provokasi, menyusul terbunuhnya Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil pada akhir Februari. Serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai target Amerika Serikat dan Israel di kawasan, menandai eskalasi konflik yang kian mengkhawatirkan dunia internasional.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi global, meningkatnya ketegangan di wilayah ini menimbulkan kekhawatiran besar akan dampak ekonomi yang lebih luas—dari lonjakan harga minyak hingga gangguan rantai pasok internasional.



