telusur.co.id - Presiden Joko Widodo mengapresiasi kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), terkait pertumbuhan kreditnya sebesar 14,9 persen dengan laba Rp41 triliun yang dibukukan pada 2022.
Angka-angka itu diakui Jokowi didapatkan saat ia bertanya langsung kepada Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi sebelum menjadi pembicara kunci dalam Mandiri Investment Forum 2023 di Jakarta, Rabu (1/2/23).
Dengan angka sebesar itu, Jokowi merasa bangga atas capaian Bank Mandiri.
"Kadang-kadang saya mikir, ini kok tumbuhnya tinggi banget? Jangan-jangan bunganya ketinggian. Tapi apapun, harus kita apresiasi Bank Mandiri yang bisa menyalurkan kredit tumbuh sebesar 14,9 dan keuntungan perusahaan di angka Rp41 triliun," kata Jokowi.
Untuk investasi tahun 2022 lalu, lanjut Jokowi, juga masih mencapai target, yaitu di atas Rp1.200 triliun, tepatnya di Rp1.207 triliun.
"Kemudian, pertumbuhan itu 53 persen yang saya senang, 53 persen itu ada di luar Jawa, 47 persen ada di Jawa," ujarnya.
Artinya, kata Jokowi, Indonesia tidak lagi Jawa sentris lagi tapi Indonesia sentris. Di Sulawesi, Maluku Utara, Sumatra, tumbuh 53 persen di luar Jawa dan di Jawa 47 persen.
"Ini sangat-sangat baik, karena hampir semua negara sekarang ini rebutan yang namanya investasi," ungkapnya.
Kenapa negara luar mau berinvestasi? Menurut Jokowi ada banyak hal. Diantaranya, pemerataan infrastruktur yang tidak hanya di Jawa saja tapi sudah hampir merata di luar Jawa.
"Entah itu jalan tol, entah itu pelabuhan, entah itu airport, entah itu jalan provinsi. Meskipun belum selesai, tetapi semuanya dalam proses semuanya," ujarnya.
Lalu, stabilitas sosial dan politik dan keamanan di Indonesia dianggap baik. Termasuk baiknya fundamental ekonomi.
"Sehingga orang mau berinvestasi di negara kita. Dan juga, kepemimpinan Indonesia di G20 dan sekarang menjadi Ketua ASEAN. Dan, kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi kita memang masih dikonsumsi dan yang kedua di investasi. Oleh sebab itu, investasi ini betul-betul harus kita jaga, baik investasi yang dalam ukuran kecil di UKM-UKM kita maupun yang gede di korporasi-korporasi, yang masuk ke Indonesia, "tukasnya.[Fhr]



