telusur.co.id - Pernyataan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi, yang mengklaim bahwa saat ini tidak ada desa miskin di Indonesia, dinilai bertolak belakang dengan data pemerataan listrik dan air bersih. Bahkan, klaim Wamendes itu dianggap tidak berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
"Buka dulu data di BPS. Di Indonesia masih banyak desa tertinggal alias miskin. Dan angka kemiskinan tercatat juga meningkat," kata Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, Minggu (12/2/23).
Jerry lantas memaparkan data BPS, yang melaporkan bahwa penduduk miskin di desa tahun 2021-2022 sekitar 13,10 persen. Rinciannya, 4.700 desa di Indonesia belum teraliri listrik dan 47.195 desa di Indonesia belum teraliri air bersih.
Karena itu, Jerry meminta Wamendes membaca data valid terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pernyataan ke hadapan publik.
"Saya sarankan kepada Budi Arie Setiadi untuk memakai data yang valid sebelum bicara ke hadapan publik. Kemiskinan di perdesaan itu masih lebih tinggi dari perkotaan dan itu cukup jauh disparitasnya," pungkasnya.
Sebelumnya, Wamendes PDTT Budi Arie Setiadi mengeklaim bahwa tidak ada desa miskin di Indonesia.
Hal itu ia sampaikan di sela-sela kunjungannya di kawasan Teba Majelangu, Kertalangu, Denpasar, Bali.
"Saya ini aliran yang tidak percaya ada desa miskin di Indonesia. Yang ada adalah desa yang belum menemukan potensi yang dimilikinya dan bagaimana mengelola potensinya," kata Budi Arie, pada Minggu (5/2/23), dikutip dari detik.com.
Menurut Budi Arie, dalam mengetahui potensi desa, haruslah warga desanya sendiri yang mencari tahu. Warga juga dituntut untuk memiliki ide-ide kreatif dalam pengembangan potensi suatu desa.
"Saya lihat ketika keliling Indonesia tidak ada yang susah, harusnya ya. Yang penting semangat dan optimis dari warga desa, perbekel, direktur, lalu dengan dukungan sekda, camat dan semuanya saya yakin Indonesia ini jadi negara besar," kata dia.[Fhr]



