telusur.co.id - Direktur Eksekutif Center for Budget Analisis (CBA) Uchok Sky Khadafi menilai, tarif atau biaya penerbangan yang diusulkan maskapai Garuda Indonesia untuk melayani keberangkatan dan kepulangan jemaah haji terlalu mahal.
Menurut Uchok, semestinya maskapai milik rakyat itu bisa memberikan harga jauh lebih kompetitif dibanding dengan maskapai lainnya.
"Kemahalan kalau usulannya Rp33 juta. Sebaiknya pemerintah memikirkan opsi untuk memilih maskapai lain yang bisa menawarkan harga jauh lebih murah. Bisa saja ada maskapai selain Garuda yang biayanya kurang dari 20 juta. Kalau angka Rp20 juta saya kira cukup relevan lah," saran Aktivis 98 itu kepada wartawan, Kamis (10/2/23).
Uchok mendorong agar Kementerian Agama (Kemenag) membuka skema tender layanan penerbangan jemaah haji secara terbuka.
"Supaya maskapai-maskapai lain ikut tender. Siapa tahu ada yang lebih murah tarifnya dan fasilitasnya tetap memadai. Lagian kok hanya Garuda dan Saudi Arabian Airlines yang handle. Ini penunjukan langsung atau tender? Hal ini juga kudu dibuka sejelas-jelasnya (oleh Kemenag) sebagai upaya menghadirkan prinsip transparansi kepada publik," tegasnya.
Sebelumnya, dalam rapat panitia kerja (panja) Haji dengan Komisi VIII DPR RI, biaya penerbangan untuk keberangkatan jemaah haji 2023 diusulkan turun dari usulan Kementerian Agama (Kemenag) sebesar Rp 33,9 juta menjadi Rp 33,4 juta.
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Layanan dan Niaga PT Garuda Indonesia Ade R Susar dalam panja Haji Komisi VIII DPR RI, Kamis (9/2/23).
"Jadi dengan asumsi-asumsi tadi, yang saat ini masih terbatas, kita hitung direct dan indirect-nya, cost-nya, total cost sekitar Rp 31.431.353, airport building charge Rp 1.191.253, dan grand total cost Rp 32.622.606, kita hitung kalau margin tahun lalu 2,5 margin, jadi sekitar Rp 33.438.171," kata Ade.[Fhr]



