telusur.co.id -Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan International Electronics Symposium (IES) 2026 di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta.
Mengusung tema “Cyber-Physical Systems and Society: Bringing Human Behavior and Social Dynamics into the Technological Ecosystem”, forum ilmiah internasional tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi, peneliti, pemerintah, dan industri untuk membahas pengembangan teknologi yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Penyelenggaraan IES 2026 menjadi tonggak baru bagi PENS karena untuk pertama kalinya kegiatan tersebut digelar di Kota Yogyakarta. Pemilihan Yogyakarta tidak lepas dari statusnya sebagai kota pelajar dengan ekosistem perguruan tinggi yang kuat, sekaligus sebagai destinasi wisata yang dinilai mampu menarik peneliti dari berbagai negara.
IES 2026 menghadirkan empat pembicara utama (keynote speaker) dari Indonesia dan Jepang. Mereka adalah Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng.; Prof. Dr. Naoyuki Kubota dari Tokyo Metropolitan University, Jepang; Prof. Iwan Syarif, Ph.D. dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya; serta Prof. Toru Nakanishi dari Hiroshima University, Jepang.
Keempatnya membahas berbagai topik, mulai dari arah strategis riset nasional, cyber-physical-social systems, kecerdasan buatan untuk keamanan siber, hingga teknologi autentikasi terdesentralisasi yang menjaga privasi digital.
General Chairman IES 2026, Adnan Rachmat Anom Besari, S.ST., M.Sc., Ph.D., mengatakan penyelenggaraan tahun ini dirancang untuk memperluas kolaborasi internasional sekaligus memperkuat posisi PENS sebagai bagian dari komunitas akademik global.
"Tujuan utama IES adalah internasionalisasi. Bagaimana agar PENS menjadi bagian dari masyarakat akademik dan peneliti internasional, sehingga persoalan yang diselesaikan melalui riset bukan hanya persoalan lokal Indonesia, tetapi juga tantangan global seperti energi, kesehatan, lingkungan, dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dunia," ujar Anom.
Menurutnya, tema yang diangkat dalam IES 2026 mencerminkan perubahan paradigma dalam pengembangan teknologi. Teknologi tidak lagi diposisikan sebatas hasil riset yang berkembang di laboratorium, tetapi harus hadir bersama masyarakat dan berkembang melalui partisipasi publik.
"Melalui tema Cyber-Physical Systems and Society, kami ingin mendorong para peneliti agar tidak hanya berkutat di laboratorium, tetapi melibatkan masyarakat dalam pengembangan teknologi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengembangan sehingga teknologi benar-benar tumbuh bersama masyarakat," tegas Ketua Umum IES 2026.
Sebagai forum ilmiah internasional, IES 2026 juga mencatat antusiasme tinggi dari peneliti berbagai negara. Berdasarkan data panitia, sebanyak 526 makalah dari 19 negara dikirimkan dalam proses seleksi.
Dari jumlah tersebut, 198 makalah dinyatakan diterima dengan acceptance rate sebesar 37,6 persen. Sebanyak 126 makalah dipresentasikan secara luring, sedangkan 72 lainnya dipresentasikan secara daring.
Bidang telekomunikasi menjadi salah satu topik riset yang mendapat perhatian dalam penyelenggaraan IES tahun ini. Pengembangan riset tersebut didukung kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk Telkom University.
Sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta juga turut berpartisipasi, di antaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas AMIKOM Yogyakarta, Politeknik Teknologi Nuklir, serta berbagai institusi lainnya.
Selain sesi keynote dan presentasi ilmiah, IES 2026 menghadirkan tujuh lokakarya internasional yang membahas sejumlah isu strategis. Topik yang diangkat meliputi telekomunikasi, keamanan siber berbasis kecerdasan buatan, sistem pengukuran radiasi nuklir, software-defined vehicle, integrasi AI untuk lingkungan, teknologi imersif, hingga keamanan Internet of Things (IoT).
Forum tersebut juga menyelenggarakan sembilan sesi paralel yang mencakup bidang energi, elektronika, telekomunikasi, robotika, komputasi cerdas, multimedia, dan teknologi interaktif.
Direktur PENS, Dr.-Ing. Ir. Arif Irwansyah, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa IES merupakan bagian dari komitmen institusi untuk menghadirkan forum ilmiah bertaraf internasional yang mampu memperkuat kolaborasi riset sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"International Electronics Symposium merupakan wadah strategis untuk mempertemukan akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah dalam membangun kolaborasi yang menghasilkan inovasi berdampak. Tema yang kami usung tahun ini menegaskan bahwa perkembangan teknologi perlu berjalan selaras dengan pemahaman terhadap perilaku manusia dan dinamika sosial agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujar Direktur PENS.
Ia menambahkan, PENS akan terus memperluas jejaring internasional melalui kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah, serta pertukaran pengetahuan bersama perguruan tinggi dan mitra industri dari berbagai negara.
"Kami berharap IES 2026 tidak hanya menjadi ruang diseminasi hasil penelitian, tetapi juga melahirkan kolaborasi baru yang mampu mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang relevan dengan tantangan masa depan," ujar Arif.
Dalam penyelenggaraan IES 2026, PENS juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra industri, di antaranya Cisco Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, Gameloft Indonesia, Telkomsat, Telkom Indonesia, Piranti Kecerdasan Buatan (PIKEBU), dan DigiWare Unlimited Innovations.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi PENS dengan industri, perguruan tinggi internasional, serta mitra kampus di Indonesia dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas karya ilmiah yang dipresentasikan, panitia memberikan penghargaan kepada sembilan makalah terbaik melalui Best Paper Awards. Penghargaan tersebut terbagi dalam dua kategori, yakni Engineering Technology and Applications (ETA) dengan empat pemenang dan Knowledge Creation and Intelligent Computing (KCIC) dengan lima pemenang.
Melalui penyelenggaraan IES 2026, PENS kembali memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi vokasi yang aktif membangun ekosistem riset internasional. Konferensi tersebut tidak hanya menjadi ajang diseminasi hasil penelitian, tetapi juga momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi global guna menghasilkan inovasi teknologi yang adaptif terhadap dinamika sosial serta mampu menjawab berbagai tantangan masyarakat dunia.



