telusur.co.id, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak meminta PT pertamina untuk merespons dengan cepat keluh kesah yang kini dialami para pelaku usaha Pertashop di berbagai pelosok desa di Indonesia.
Pasalnya, kata dia, para mitra Pertamina itu mengalami kerugian akibat ditinggal pembeli yang lebih memilih BBM murah karena adanya perbedaan harga Pertamax dan Pertalite yang cukup tinggi. Terlebih, para mitra pertamina itu mayoritas merupakan masyarakat kecil.
Diketahui, Pertashop merupakan lembaga penyalur resmi berskala kecil yang menyediakan BBM non-subsidi dan produk lain dari Pertamina di daerah yang jauh dari SPBU
"Ini saya menyampaikan aspirasi dari beberapa konstituen. Masyarakat yang sudah merespon mengikuti programnya pertamina mendirikan pertashop. rata-rata mereka mendapatkan keuntungan sampai 11-12%. Tapi di tahun ke dua mereka bukan untung. Ya rugi lah. Boso jowone buntung bu, enggak enak didengar," kata Amin Ak saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi VI DPR RI dengan Pertamina, Selasa (31/1/2023).
"Dengan adanya disparitas, selisih harga yang begitu besar antara SPBU dengan pertashop ya orang gak mau beli ke pertashop," sambung Amin Ak.
Dalam kesempatan itu, Amin mengakui bahwa program dan kebijakan penyaluran serta penentuan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memang bukan murni kebijakan PT Pertamina saja, akan tetapi juga kebijakan Kementerian ESDM.
Namun, Nasib pelaku usaha pertashop yang kini sedang tak menentu dan terancam bangkrut itu, lanjut Amin Ak semestinya harus segera diselamatkan. Sebab, jika terus dibiarkan, ia khawatir, program-program yang ditawarkan Pertamina dikemudian hari akan susah diterima oleh masyarakat.
"Itu mereka meminta kepada Pertamina, gimana sih ini kedepannya dan kami tentu berharap agar terobosan-terobosan Pertamina ini kebijakan yang digulirkan oleh pertamina dan (sudah) direspon oleh masyarakat. Jangan sampai mereka menderita kerugian. Jadi mereka juga butuh kenyamanan untuk merespon program-program pertamina berikutnya," tegas Amin.
Senada dengan Amin Ak, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Deddy Yevri Hanteru Sitorus juga mempertanyakan impian Pertamina mendekatkan sumber penyaluran energi BBM di tengah masyarakat dengan menyediakan outlet Pertashop di berbagai desa di seluruh indonesia.
"Fakta bahwa (pelaku usaha) pertashop itu ya rugi sekarang ini. Ini perlu mitigasi supaya pengusaha pertashop itu terutama (bagi) mereka yang memang sangat membutuhkan itu bisa survive gitu. Saya agak ragu bahwa nanti disetiap desa ada outlet," kata Deddy Sitorus.
"Ini sangat penting, terutama di daerah 3T. Ini sangat dibutuhkan. Karena orang tanpa energi akan susah hidup dengan nyaman," sambung legislator asal Dapil Kalimantan Utara ini.
Menanggapi pertanyaan itu, Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati menyampaikan bahwa awalnya, pertashop didirikan untuk mempermudah masyarakat dengan cara mendekatkan sumber penyaluran dan menjaga kualitas kemurnian energi BBM kepada masyarakat.
"Selama ini masyarakat itu membeli dari pengecer yang harganya jauh lebih tinggi dibanding BBM Non PSO di SPBU. Nah, pertashop itu menjamin bahwa produknya asli, tidak dicampur dan harganya sama dengan SPBU," kata dia.
"Karena kalau kami memperhitungkan, pertashop itu jaraknya paling dekat 10 KM dari SPBU. Jadi, kami menghitung kalau mereka ke SPBU habis 1 Liter untuk Pergi Pulang dengan harga itu. Nah, kami dekatkan ke rumah mereka dengan harga sama dengan SPBU. Pengecer-pengecer itu harganya jauh diatas itu dan kita enggak tahu apakah itu dicampur atau tidak kuakitasnya dengan aspek safety yg tidak nyaman. Jadi yang kami lakukan adalah kami menawarkan kepada pengecer untuk menjadi mitra pertashop. Kami juga kerjasama dengan himbara pak. Untuk pertashop kerjasama dengan himbara," sambung Nicke.
Tak puas dengan jawaban Dirut Pertamina tersebut, Deddy Sitorus menegaskan kembali pertanyaannya.
"Jadi kalau perstashop enggak boleh jual pertalite gimana? Ini kan problem juga," kata Deddy Sitorus.



